Forelsket



: Ten
Aku tak ingin kau menjadi siapa-siapa dalam mimpiku. Biar kau memilah dan memilih jalan hidup sendiri. Perempuan berambut hitam panjang seperti air terjun dan badai dalam kepalanya. Serta bibir seumpama laut bergelombang tenang yang siap menyeret segala kecemasanku.
Di sebuah parkiran. Kau lebih suka ditunggu daripada menunggu. Waktu dan segalanya menguap, kecuali aku. Bersabar menunggu engkau berkutat dengan berkas-berkas dan orang-orang yang tak pernah mengerti perasaanmu. Jalan-jalan macet, lampu kota siap untuk dinyalakan dan hati-hati perlahan dimatikan. Menandakan mesin-mesin berbondong menuju tempat yang mereka sebut dengan rumah. Trotoar kini semakin sempit, seolah-olah tak ada lagi ruang untuk berjalan kaki. Di atas kepala kita gerhana bulan datang menggantikan matahari yang sudah lebih dulu pulang.
Katakan padaku, mana yang lebih dulu yang tiba-tiba mengepung kita. Lingkaran cuaca yang mudah berubah-ubah atau hujan rindu rintik-rintik yang jatuh tepat di atas kepala? Apapun jawabanmu, kadang rindu selalu datang tak tepat waktu. Semalam ia datang pukul satu pagi mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Esoknya datang saat jarak kita hanya sekepalan tangan saja. Itu sebabnya aku sering mendekap erat tubuhmu. Menghirup dalam-dalam parfum tubuhmu. Membiarkan aromanya terperangkap dalam jantung dan sebagian lagi menyebar ke seluruh nadiku. Aku ingin sekali menyebut adegan ini sebagai puisi. Tapi percuma saja. Aku tahu pasti kau akan menertawakan ini.
Mimpiku kini lagi tak semeriah dulu. Sebab telah kutemukan kau sebagai satu-satunya tempat aku berjalan pulang. Biar tubuhku melacur kepada uang, biar jiwaku dikekang waktu. Selama tanganku digenggamanmu, segala mimpiku akan menjadi nyata dan meraksasa. Aku percaya itu.
Jakarta, 2015
Ditulis oleh kekasih saya, di sini: 

Comments