Membaca Isi Kepala Eka Kurniawan

Bagaimana memasukkan seekor gajah ke dalam kulkas?

Pertanyaan ini sering saya dengar dalam beberapa training yang pernah saya ikuti. Pembicara sering mengeluarkan pertanyaan ini untuk memancing kreativitas peserta. Berbagai jawaban pun terlontar dari para peserta namun tak ada yang menjawab: keluarkan isi kulkas, lalu masukkan gajahnya. Muat atau tidak, urusan belakangan. Biasanya jawaban ini yang akan dijawab sendiri oleh sang pembicara. Lalu peserta ribut sendiri. Saya pernah mengajukan pertanyaan yang sama kepada junior-junior saya di Pers Mahasiswa dan selalu kejadiannya berulang.



Sepertinya cerpen berjudul Membuat Senang Seekor Gajah yang ditulis Eka Kurniawan terinspirasi dari pertanyaan yang 'melegenda' ini. Cerpen ini terdapat di buku terbaru Eka berjudul Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Buku ini merupakan kumpulan cerpen, berisi 15 cerpen yang 14 di antaranya sudah pernah dimuat di koran. Cerpen Membuat Senang Seekor Gajah adalah satu-satunya cerpen dalam buku ini yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Mari simak paragraf pembuka cerpen:
Karena cuaca yang sangat panas, sebab begitulah yang sering terjadi di negeri tropis ini, si Gajah mendatangi sebuah rumah. Ia telah mendengar dar seseorang, atau dari beberapa ekor gajah dan binatang lainnya, bahwa manusia memiliki lemari pendingin kecil. Mereka menyimpan segala sesuatu, terutama makanan, di lemari ini. Tentu menyenangkan jika aku bisa masuk ke lemari itu, pikir si Gajah. (halaman 51)


Cerita kemudian berlanjut dengan kenekatan si Gajah untuk mengetuk pintu rumah manusia dan bertemu dua anak kecil yang membukakan pintu. Si Gajah meminta bantuan untuk dimasukkan ke lemari pendingin (kulkas). Kedua anak kecil itu pun berusaha menyenangkan si Gajah dengan cara mengeluarkan seluruh isi kulkas, bahkan memotong-motong tubuh Gajah agar bisa masuk ke dalam kulkas. Ya, seperti yang sudah saya sebutkan di pembuka tulisan ini: keluarkan dulu isi kulkas, masukkan gajah, perkara muat atau tidak urusan belakangan. Eka Kurniawan pun menggunakan imajinasinya agar si Gajah bisa muat di dalam kulkas, meski agak mengerikan: si Gajah pun dipotong-potong!

Seperti cerpen Corat-Coret di Toilet yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen Eka sebelumnya, cerpen Gajah ini sepertinya terinspirasi oleh kejadian-kejadian di sekeliling Eka yang kemudian diubah menjadi karya. Saya sendiri pernah duduk di dalam toilet kampus yang dindingnya penuh coretan, tapi tidak terpikirkan akan membuat hal remeh itu menjadi cerpen. Saya juga pernah mendengar pertanyaan soal gajah tapi tak pernah berpikir itu cukup menarik dijadikan cerpen.





Sama halnya dengan cerpen lain berjudul Jangan Kencing di Sini. Kita tentu sering membaca tulisan Jangan Kencing di Sini! pada dinding-dinding rumah, sebab penghuninya kesal karena banyak orang kencing sembarangan. Tokoh utama cerpen ini, Sasha, mengalaminya. Ia memiliki butik kecil yang setiap pagi selalu berbau pesing akibat ulah para lelaki yang kencing sembarangan di malam hari. Sekali lagi, hal-hal remeh sehari-hari bisa 'disulap' Eka menjadi cerpen yang menarik. Cerpen berjudul Teka-Teki Silang misalnya, menceritakan tokoh utama yang senang mengisi Teka-Teki Silang. Menjadi menarik ketika tokoh utama kemudian merasa mendapat teror setelah menemukan halaman Teka-Teki Silang yang tercecer. Setiap kata yang ia tulis, menunjukkan rangkaian peristiwa menyeramkan yang akhirnya ia alami.

Namun, cerpen favorit saya dari buku ini ada 4:
1. Gincu Ini Merah, Sayang
2. Penafsir Kebahagiaan
3. La Cage aux Folles
4. Setiap Anjing Boleh Berbahagia

Untuk cerpen Gincu Ini Merah, Sayang, kejadian pada pembuka cerpen kemudian menjadi penutup cerpen, namun kalimatnya berbeda. Isi cerpen mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi. Plot ini pula yang digunakan dalam cerpen  La Cage aux Folles. Namun di cerpen La Cage aux Folles, kalimat pada paragraf pembuka cerpen sama persis dengan paragraf penutup cerpen. Berikut kutipannya:
"Antara Jakarta dan Los Angeles barangkali bukan jarak yang jauh buatku," kata Kemala kepada Martha akhirnya, sebelum melanjutkan,"tapi antara tubuh lelaki dan perempuan, kau akan tahu, ada jarak yang terlampau jauh untuk ku tempuh."

Meski menggunakan plot yang sama, dua cerpen ini jadi memiliki 'rasa' yang berbeda. Padahal bisa saja Eka membuat kedua cerpen ini sama-sama memiliki kalimat pembuka dan penutup yang sama. Namun Eka tidak semalas itu membuat cerpen dengan 'rasa' yang sama.

Di cerpen Setiap Anjing Boleh Berbahagia, saya takjub dengan imajinasi Eka yang membuat tokoh utama (manusia) yang dapat berselingkuh dengan seekor anjing. Saking cintanya kepada anjing, Raya, meninggalkan suaminya demi bisa hidup bersama si Anjing. Tapi kemudian si Anjing mati di tangan suami Raya namun dia bahagia karena disantap oleh perempuan yang mencintai dan dicintainya. Aduh, isi kepala Eka Kurniawan ini kelewatan out of the box-nya :)

Terakhir, cerpen Penafsir Kebahagiaan jadi favorit saya sebab ending-nya lucu tapi miris. Bagaimana seorang ayah (yang dituduh) menghamili pelacur milik anaknya sendiri, tertulis dengan alur yang maju-mundur, tapi tidak membingungkan. Pada kehidupan nyata, mungkin kejadian ini tak pernah ada, namun Eka berhasil membuat saya merasa seperti kejadian tersebut benar-benar terjadi dan ayah-anak ini harus membesarkan seorang anak kecil yang entah siapa ayah kandungnya.

Buku ini adalah buku kumpulan cerpen terakhir Eka Kurniawan yang terbit dan di blognya Eka memutuskan berhenti menulis cerpen sampai waktu yang belum ditentukan. Tak heran ia memutuskan berhenti, sebab sudah banyak sekali cerpen dengan tema dan karakter yang beragam yang telah ditulis Eka. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjumlah 4 (Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, Corat-Coret Di Toilet, Gelak Sedih, Cinta Tak Ada Mati). Ini belum termasuk cerpen-cerpen yang ada di dalam buku-buku antologi dan cerpen-cerpen yang ditulisnya sejak sekolah, yang mungkin belum sempat dipublikasikan karena keburu dimusnahkan ibunya.

Mungkin jumlah ini tidak ada apa-apanya bagi penulis kenamaan Indonesia lain yang karyanya sudah tersebar di mana-mana. Namun sepertinya Eka bukan penulis yang 'kejar setoran'. Ketika ia merasa harus berhenti, ia berhenti. Entah akan sejenak atau selamanya, Eka menunjukkan bahwa ia penulis yang punya kendali atas karyanya sendiri, tidak bergantung pada selera pasar apalagi 'setoran'.



Comments