Apa (Lagi) Karyamu?

Judul postingan ini meminjam tema sebuah acara talkshow di Kompas TV, tapi tidak ada hubungannya dengan acara tersebut. Saya sedang tergelitik untuk membahas tentang ajang pencarian bakat. Baru-baru ini saya terpilih sebagai satu dari 16 Emerging Indonesian Writers, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015. Informasinya bisa dibaca di sini:
http://www.ubudwritersfestival.com/id/highlight-id/enam-bela-penulis-indonesia-terpilih/

Jika dalam musik ada ajang pencarian bakat sekelas American Idol, The Voice, yang kemudian diduplikasi habis-habisan oleh stasiun televisi Indonesia dengan membeli lisensi, maka di dunia literasi (Indonesia) pun ada ajang-ajang pencarian bakat seperti itu. Sebutlah sekelas Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang sempat melambungkan nama Ayu Utami, atau ajang-ajang lomba menulis lainnya yang memberi wadah bagi penulis untuk berkompetisi, untuk menunjukkan karyanya ke pembaca yang lebih luas. Emerging Writers UWRF juga berada di wilayah ini.

Selama ini saya senang menonton ajang-ajang pencarian bakat di televisi. Selain karena membuat saya melihat bakat-bakat baru di luar nama-nama yang sudah terlalu mainstream, namun juga membuat saya bersemangat untuk suatu hari bisa berprestasi seperti mereka. Jujur saja, saat kuliah saya pernah bermimpi ingin menjadi pemenang Indonesian Idol atau Puteri Indonesia. Tapi saya tahu diri, saya tak punya tubuh tinggi semampai dan tak punya suara indah yang dapat membuat semua mata tertuju kepada saya. Satu-satunya yang saya bisa hanya menulis. Ya, menulis. Itu sebabnya saya ikut ajang pencarian bakat seperti Emerging Writers UWRF.

Mungkin banyak yang mencibir atau nyinyir pada acara-acara pencarian bakat seperti ini. Para pemenang kemudian diberi label 'karbitan' alias disamakan dengan buah yang tidak matang pohon namun matang karena direndam di beras. Matang yang dipaksakan. Lalu mereka juga mengatakan, bintang yang munculnya cepat, redupnya akan cepat. Tapi apakah sebelum mengatakan itu, mereka pernah mencari tahu apa yang telah dilakukan para finalis Indonesian Idol sebelum bisa tampil di panggung spektakuler?





Ada yang pernah menjadi penyanyi kafe, ada yang ikut lomba sana-sini, ada yang sering ditolak label rekaman karena dianggap tak menjual. Meskipun, tentu ada pula golongan penyanyi jalanan yang beruntung lalu tiba-tiba muncul menjadi bintang. Atau golongan orang-orang yang menjual air mata demi mendulang suara. Biasanya golongan ini dibutuhkan untuk menarik rating. Namun jelas, golongan pertama, golongan penyanyi yang memulai perjuangannya dari bawah, jatuh-bangun, itulah yang akhinya keluar sebagai pemenang.

Masalah sesungguhnya bukan berada di ajang pencarian bakatnya, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh para pemenang setelah ia memenangkan ajang pencarian bakat. Ia telah disaksikan jutaan mata, suaranya sudah didengar, penampilannya telah diuji, jam terbangnya bertambah. Maukah ia, sedikit lagi berusaha agar namanya tetap dikenang?

American Idol memang mencetak nama-nama yang kemudian menjadi penyanyi terkenal seperti Kelly Clarkson, Carrie Underwood, Daughtry, Fantasia, Ruben Studdard, Jennifer Hudson, Clay Aiken, Adam Lambert dan Jordin Sparks. Indonesia, sebagai pembeli lisensinya, juga sempat menelurkan penyanyi yang sukses di industri musik Indonesia, seperti Judika, Rini Wulandari, Delon, Mike Mohede, dan lainnya. Mereka secara reguler meluncurkan album, juga tampil di berbagai acara on air dan off air. Tentu saja kesuksesan mereka bukan semata pekerjaan tunggal Indonesian Idol, melainkan hasil kerja keras masing-masing penyanyi, untuk melobi produser, menciptakan lagu, dan mencari job menyanyi melalui manajemen yang baik.

Di dunia literasi, sebut saja Ayu Utami, pemenang pertama Sayembara Menulis Novel DKJ tahun 1998, hingga kini telah menerbitkan 10 novel dan 3 buku zodiak. Ratih Kumala, pemenang ke-3 Sayembara Menulis Novel DKJ tahun 2003, hingga kini telah menerbitkan 4 novel dan 2 kumpulan cerpen. Tentu saja, DKJ tidak melakukan apa-apa setelah memilih kedua penulis perempuan ini sebagai pemenang, selain, menerbitkan satu karya mereka yang memenangkan sayembara melalui penerbit Gramedia Pustaka Utama. Setelah itu, nasib kedua penulis ini tentu ada di tangan mereka sendiri. Jika tak produktif, karyanya yang diterbitkan bisa jadi hanya satu-satunya, yakni karya yang menang ajang tersebut.

Kecenderungan orang untuk menyalahkan ajang pencarian bakat karena hanya sanggup mengangkat nama seseorang dalam waktu singkat sekaligus menjatuhkannya dalam waktu singkat, sungguh sebuah opini yang sangat skeptis. Ajang pencarian bakat, sesuai namanya, tentu, berfungsi untuk mencari bakat-bakat yang selama ini terpendam, tidak terekspos dengan baik, agar mendapatkan 'panggung' yang lebih luas. Setidaknya, ajang ini membuat seseorang lebih 'terlihat'. Sungguh pemalas orang-orang yang menganggap ajang ini akan membuat sang pemenang berjaya seumur hidupnya. Hei, itu baru betulan pemalas namanya.

Para pemenang yang bisa memanfaatkan kemenangannya untuk publikasi karya selanjutnya, adalah pemenang yang rajin. Ini sekaligus menjadi renungan bagi saya sendiri. Sebelum terpilih di UWRF 2015, karya saya telah terpilih untuk masuk buku Cerpen Pilihan Kompas tahun 2014. Malam penganugerahannya akan digelar tanggal 10 Juni 2015. Saya tak berharap menjadi pemenang sebab dapat masuk buku antologi Cerpen Pilihan Kompas saja bagi saya sudah merupakan sebuah kemenangan. Lalu di UWRF ini, karya saya juga akan dibukukan, dikompilasi sehingga menjadi buku antologi, bersama karya 15 penulis terpilih lainnya. Bedanya, dalam antologi UWRF, karya saya tak hanya berbahasa Indonesia, tetapi juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya saya akan dibaca oleh peserta festival, media, tamu undangan, dan bisa saja jadi oleh-oleh untuk dibawa ke negara masing-masing oleh para pembeli dari berbagai negara yang hadir.

Saya menunggu bertahun-tahun untuk menikmati saat ini. Sebelum ini, tak banyak yang mengenal siapa saya, bahkan sampai detik ini pun masih belum begitu banyak yang mengenal saya dan karya saya. Saya mulai dengan jatuh-bangun menulis cerpen sambil berpindah-pindah tempat karena pekerjaan, ikut berbagai lomba menulis, ditolak penerbit mainstream, hingga menulis di blog tanpa ada pembaca. Namun akhirnya, dua karya terbaru saya menemukan 'jodoh'-nya, yakni cerpen Joyeux Anniversaire dan Rosa Alba. Cerpen pertama dimuat di Harian Kompas tanggal 29 Juni 2014 dan terpilih untuk masuk antologi Cerpen Pilihan Kompas 2014. Cerpen kedua dimuat di Majalah Femina no. 05/XLIII (edar 31 Januari - 6 Februari 2015) dan berjodoh dengan UWRF, terpilih untuk masuk ke dalam buku antologi UWRF 2015.

Saya tahu, ini bukan akhir namun awal perjalanan saya di dunia tulis menulis, terutama karya fiksi. Apakah setelah euforia kemenangan ini, saya akan betulan menjadi penulis kompeten atau hanya menjadi penulis 'karbitan'. Apakah setelah semua ini nama saya akan semakin dikenal atau justru hilang sama sekali? Semua ada di tangan saya, bukan di tangan UWRF.

Meski sebetulnya penulis tidak membutuhkan pembuktian apa pun kepada siapa pun karena menulis merupakan pengalaman yang sangat personal, namun dalam kasus ajang pencarian bakat, alangkah bagusnya jika penulis memikirkan apa lagi karya yang akan ia suguhkan kepada pembaca. Apakah ia memang pantas mendapat predikat pemenang, orang yang terpilih melalui kriteria tertentu? Apalagi setelah menyingkirkan ratusan pengirim karya lain dari seluruh Indonesia.

Sama halnya dengan penyanyi. Meskipun menyanyi bagi sebagian orang merupakan pengalaman spiritual sebab ia merasa terlahir sebagai penyanyi dan seluruh hidupnya hanya ingin menyanyi, namun dalam konteks mengikuti ajang pencarian bakat, ia tetap harus membuktikan sesuatu. Ia tetap harus bertanggung jawab atas kemenangan yang disandangnya. Apakah ia memang pantas menjadi seorang Idola Indonesia? Apakah ia memang seberbakat itu untuk bertahan di industri musik Indonesia maupun internasional?

Faktor keberuntungan tidak akan selamanya mengikutimu. Maka, sebelum orang lain bertanya, tanyakanlah pertanyaan ini kepada dirimu:

Apa (lagi) karyamu?




Comments