Cerpen Pilihan Kompas 2014

Saya menuliskan postingan ini karena masih berada dalam uforia malam penganugerahan cerpen pilihan kompas 2014. Tulisan ini mungkin akan menjadi penuntasan ‘masturbasi’ saya akan momen itu. Meski bukan pemenang, namun izinkan saya mengisahkan (jika membanggakan disebut sebagai kesombongan) sekali lagi, tentang karya ini.



Buku Cerpen Pilihan Kompas 2014 berisi 24 cerpen pilihan dari 52 cerpen yang sudah dimuat di harian Kompas sepanjang tahun 2014. Sudah menjadi tradisi Kompas untuk menerbitkan buku antologi, sejak tahun 1992. Namun 24 adalah angka terbanyak sepanjang 23 tahun terakhir.

Yang unik dari tahun ini adalah terpilihnya karya Faisal Oddang, penulis yang usianya paling muda (kelahiran 1994) dan masih berstatus mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin, Makassar. Sementara di buku ini, terdapat nama-nama penulis yang lebih ‘senior’ seperti Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Budi Darma, Joko Pinurbo, Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, dsb.

Sebagai salah satu penulis yang masuk kategori pendatang baru dan juga berusia muda (tahun ini saya tetap tercatat di bawah 30 tahun hehe), saya sempat tak percaya diri dan merasa tak mungkin bisa masuk buku kumpulan cerpen ini. Bisa masuk korannya saja sudah bersyukur. Tapi ternyata para juri berkata lain. Mari simak dari cuplikan prolog buku berikut ini:

Untuk pertama kali di dalam sejarah pemilihan cerpen Kompas, para juri sangat banyak bersepakat. Hal itu tampak dari jumlah cerpen yang mendapat nilai mutlak, artinya dipilih oleh semua juri, sampai sebanyak tujuh buah. Ketujuhnya adalah “Matinya Seorang Demonstran” karangan Agus Noor, “Lima Cerpen Sapardi Djoko Damono” gubahan Sapardi Djoko Damono, “Angela” ciptaan Budi Darma, “Garong” karya Indra Tranggono, “Kaing-Kaing Anjing Terlilit Jaring” tulisan Parakitri T. Simbolon, “Beras Genggam” karangan Gus tf Sakai, dan “Protes” karya Putu Wijaya.

Sebagian besar dari mereka juga senada seirama untuk lima buah cerpen, yang masing-masing mengumpulkan empat suara. Artinya, empat dari lima juri memilihnya. Kelima cerpen itu adalah “Darah Pembasuh Luka” gubahan Made Adnyana Ole, “Jalan Sunyi Kota Mati” karangan Radhar Panca Dahana, “Joyeux Anniversaire” karya Tenni Purwanti, “Travelogue” tulisan Seno Gumira Ajidarma, dan “Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon” karangan Faisal Oddang. 
Perolehan angka mutlak (5 suara) dan angka mayoritas (4 suara) menunjukkan karya-karya itu masuk dalam daftar unggulan setiap juri. Meskipun selalu ada kemungkinan bukan yang paling dijagokan di dalam daftar pribadi setiap juri, jelas semua sudah melewati saringan yang ketat. Karena itu, semua, sebanyak 12 karya, tak diragukan lagi bakal menjadi penghuni awal buku kumpulan cerpen Kompas tahun ini.

Saya berhenti membaca sampai di situ dan tergerak untuk menuliskan postingan ini. Membaca sampai di situ saja sudah membuat saya bahagia, sebab ‘anak saya’ masuk dalam 12 karya yang sudah pasti masuk buku, sejak awal. Soal siapa akhirnya yang terpilih menjadi pemenang nomor satu, sama sekali tidak merusak kebahagiaan saya.

Sengaja saya tidak membahas karya pemenang, karena sudah dibahas panjang lebar oleh para juri di prolog tersebut (jika teman-teman suatu hari memiliki buku itu, silakan baca selengkapnya). Kelima juri itu yang lebih berhak memberikan penilaian. Sebagai sesama penulis yang masuk dalam buku itu, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada harian Kompas yang telah memberikan apresiasi yang konsisten selama lebih dari 20 tahun untuk para cerpenis dari seluruh Indonesia dan dari berbagai usia, untuk terus berkarya. Terima kasih kepada para juri: Frans Sartono, Hariadi Saptono, Myrna Ratna, Putu Fajar Arcana, dan Efix Mulyadi, yang empat di antaranya telah memilih karya saya untuk masuk dalam buku antologi ini.

Bagi saya pribadi, momen seperti ini adalah cambuk agar saya berkarya kembali. Ini bukan akhir, tapi awal. Jika saya ingin menjadikan menulis sebagai  ‘sesuatu yang menghasilkan sesuatu’ maka saya harus belajar lagi. Tidak hanya mengandalkan mood dan menunggu ilham jatuh dari langit. Pertanyaannya, bisakah saya konsisten untuk terus berkarya? Apakah saya akan terus menulis meski penghargaan dan panggung itu tak akan pernah lagi menghampiri saya? 


Comments