Murjangkung dan Gaya Bercerita yang Monoton

Pada suatu hari, ketika segala hal menjadi terang, dan begitu pun matamu, kau bisa mendapati seorang mayor bertingkah mencurigakan di rumahnya sendiri. Di rumah mayor itu Seto pernah datang sebagai juru selamat; ia membebaskan seorang berandal tanggung, anak si Mayor, dari keroyokan para bajingan depan losmen gara-gara urusan perempuan. “Tinggalah di sini,” kata Pak Mayor ketika Seto mengantar pulang si anak yang lebam.

Itu adalah kalimat pembuka cerpen berjudul Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri. Adalah hal yang dihindari penulis abad ini, menggunakan pembuka cerpen dengan kata: “Pada suatu hari,” dan A.S. Laksana mendobraknya. Pada suatu hari adalah pembuka cerita paling uzur, yang digunakan oleh para ibu saat mengisahkan dongeng kepada anak-anaknya menjelang tidur. Tapi A.S. Laksana tak takut dianggap penulis yang tak kreatif sebab tak bisa memilih pembuka lain. Justru dengan keberanian itu dia membuktikan bahwa kalimat Pada suatu hari bisa menjadi pembuka cerita yang tidak membosankan jika kau bisa membentuk paragraf yang menarik.

Dari paragraf pembuka cerpen itu kita akan menemukan sebuah misteri yang perlu dijawab oleh penulis dan ini memancing penasaran pembaca: apa tingkah mencurigakan yang dilakukan si mayor di rumahnya sendiri? Dan apa hubungannya judul cerpen dengan Pak Mayor?

Ketika sampai di akhir cerita, percayalah, kau akan gemas kepada A.S. Laksana dan ingin melabraknya. Setidaknya itu yang ku rasakan. Sungguh, cerpen ini sama sekali bukan tentang Seto yang menulis peri, pelangi, dan para putri, tapi A.S. Laksana sanggup membuatku terus membuka halaman cerpen dan mencari tahu mau ke mana sebetulnya kisah cerpen ini?

Begitulah. Jika kau akan menggunakan Pada suatu hari sebagai kalimat pembuka cerpen atau novel, pastikan ending cerpen atau novelmu tak biasa, bisa memberikan twist, atau setidaknya membuat pembaca geram seperti yang ku rasakan. Ingatlah, jika kau menggunakan Pada suatu hari sebagai pembuka, jangan pernah gunakan penutup ini: mereka pun hidup bahagia selama-lamanya. A.S. Laksana, ku akui, berhasil dalam hal ini.



Dan cerpen ini hanyalah satu dari 20 cerpen yang ditulis A.S. Laksana yang terkumpul dalam Kumpulan Cerpen berjudul Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu. Tadinya ku pikir itu judul salah satu satu cerpen yang dijadikan judul buku –seperti kebanyakan judul kumcer lain, tapi ternyata judul buku ini adalah rangkuman isi cerpen yang ada di dalamnya. 

Sayangnya, nama Murjangkung hanya digunakan satu kali, yakni dalam cerpen Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut. Di cerpen-cerpen lain, A.S. Laksana lebih banyak menggunakan nama Seto dan Alit. Seto digunakan untuk 6 cerpen dan Alit digunakan untuk 4 cerpen. Untungnya semua berkarakter beda. Jadi mengapa judul kumcer ini harus Murjangkung?

Lalu Cinta yang Dungu, diwakili oleh cerpen berjudul Dongeng Cinta yang Dungu. Namun aku tak menemukan cerpen bertema hantu untuk mewakili kata 'Hantu-Hantu' di judul buku. Kecuali mungkin cerpen Otobiografi Gloria yang akan kau paksakan mewakili itu. Sebab Gloria adalah hantu yang bersemayam di tubuh penulis fiksi kemudian menuliskan kisah hidupnya. Tapi dia hanya satu hantu, bukan hantu-hantu. Ku akui, judul buku ini memang menarik, tapi kurang relevan. Namun hal itu bisa dimaafkan jika cerpen-cerpen di dalamnya menarik hatimu untuk menulis review :)

Cerpen favoritku dari buku ini ada 8 (diurutkan berdasarkan yang paling difavoritkan):
  1. Otobiografi Gloria
  2. Dongeng Cinta yang Dungu
  3. Perempuan Dari Masa Lalu
  4. Teknik Mendapatkan Cinta Sejati
  5. Malam Saweran
  6. Cerita untuk Anak-Anakmu
  7. Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar
  8. Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa

Cerpen-cerpen dalam buku ini, semuanya, sudah pernah dimuat di koran Minggu, sepeti Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan Metro Bandung. Juga, satu cerpen yang dimuat di majalah sastra Horison. Jadi tak diragukan kualitasnya –jika mengikuti standar cerpen koran. Hanya saja, di sebagian besar cerpen kita akan menemukan bahwa A.S. Laksana bertindak sebagai pendongeng, bukan sekadar menulis cerita. Ia bahkan berkomunikasi langsung dengan pembaca cerpennya. Misalnya kutipan paragraf ini:

Tentu saja aku menyadari bahwa masa lalunya pahit dan itu tak mudah dilupakan. Kenangan pahit, kau tahu, akan melekat lebih kuat ketimbang kenangan manis. Jika kau berpasangan dengan orang yang penuh kenangan pahit, kau harus selalu bisa membuat hatinya tenteram, sebab hal-hal kecil bisa membuat pasanganmu meradang-menerjang dan ia akan menyamakanmu dengan orang-orang yang pernah mengecewakannya.
(cerpen Kisah Batu Menangis, halaman 113)

Bentuk seperti ini, digunakan A.S.Laksana pada 15 dari 20 cerpen yang ditulisnya. Kata Kau Tahu, digunakan dalam 15 cerpen. Betapa membosankan! Lagi-lagi kita akan menemukan kata ‘Kau Tahu’. Entah disadari atau tidak oleh penulisnya, namun A.S. Laksana harus segera menghilangkan dua kata ini dari cerpen-cerpennya selanjutnya, atau aku akan jadi orang pertama yang hengkang dari daftar penggemar karyanya.

Setiap penulis memang memiliki ciri khas, namun menggunakan dua kata yang sama secara terus-menerus dalam semua cerpen yang ditulis, tidak akan memberi ciri khas yang baik, melainkan dianggap sebagai kebuntuan gaya bertutur yang bisa menjadi bumerang bagi penulisnya sendiri, apalagi untuk penulis sekaliber A.S. Laksana yang buku kumcer pertamanya Bidadari yang Mengembara mendapat predikat Buku Sastra Terbaik Pilihan Tempo tahun 2004. 


Comments