[Cerpen] Hilangnya Jasad Seorang Wanita


     Sepasang kekasih itu memutuskan tak bertemu lagi setelah pertengkaran terakhir mereka. Mungkin dengan memiliki waktu untuk sendiri, mereka bisa melanjutkan hidup yang lebih baik tanpa dibumbui dengan drama pertengkaran. 

Sang wanita adalah seorang penulis. Ia telah lama memutuskan berhenti bekerja sebagai jurnalis dan menjadi penulis lepas saja. Awal-awal menganggur, ia sangat produktif menulis, baik cerpen atau artikel saduran sesuai pesanan. Yang biasanya memesan artikel saduran adalah majalah gaya hidup. Sedangkan cerpen biasanya ia kirimkan ke koran-koran. Penghasilannya tidak menentu, namun sejak itu ia merasa hidupnya lebih bermakna sebab ia bisa melakukan apa yang disukainya dan bekerja dengan waktu yang diaturnya sendiri.

Sedangkan sang lelaki adalah seorang karyawan sebuah toko buku terbesar di Indonesia. Meski begitu, gajinya hanya sebesar Upah Minimum Regional. Baginya gaji itu sudah cukup untuk membiayai kehidupannya sendiri: membayar kamar kos, makan, dan rokok. Sesekali membeli bir kalau sedang kesepian. 

Mereka berdua bertemu saat sang lelaki membacakan puisi karya Sapardi Djoko Damono di sebuah acara komunitas kepenulisan. Sang wanita mengagumi cara lelaki itu membaca puisi. Penuh ekspresi dengan intonasi kata yang jelas dan tegas. Singkat cerita, mereka akhirnya berkenalan, sang wanita memberi pujian yang disambut dengan senyum malu-malu, lalu mereka berbincang basa-basi tentang acara yang sedang berlangsung. Pertemuan itu berujung saling follow akun twitter.

Saat pertemuan itu, sang wanita masih bekerja sebagai jurnalis. Kesibukan membuat mereka tak pernah bertemu lagi. Itu sebabnya sang wanita menjadi sering mengecek linikala twitter dan selalu senang mengikuti keseharian sang lelaki. Sesekali ia menyapa lelaki itu tetapi melalui fitur direct message, bukan mention.

Singkat cerita, karena merasa cocok berdiskusi di direct message twitter, mereka sepakat untuk bertemu lagi di suatu tempat. Jika pertemuan pertama mereka terjadi di komunitas, maka pertemuan kali ini mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kedai kopi. Hanya berdua, tak boleh ada yang membawa teman. 

Pertemuan itu adalah pembuka pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sampai pada suatu hari sang wanita merasa lelaki ini cocok untuk menjadi kekasihnya, begitu pula sebaliknya. Hubungan mereka pun berjalan begitu saja tanpa tradisi ‘nembak’ ala anak muda masa kini yang identik dengan kata-kata: “kamu mau jadi pacarku?” disertai tempat romantis dengan lilin-lilinnya. Tidak, mereka menjalani hubungan itu selancar air yang mengalir dari mata air menuju sungai lalu terus bermuara ke tepi pantai.

Perbedaan usia, profesi dan penghasilan tidak menghalangi mereka untuk melanjutkan percintaan. Hingga akhirnya sang wanita memutuskan meninggalkan pekerjaan tetapnya dan menjadi penulis lepas. Mereka jadi lebih mudah mengatur jadwal untuk bertemu sebab hanya tinggal mengikuti jadwal kerja sang lelaki yang justru libur di hari kerja. Tetapi bukannya menambah kemesraan, hal ini yang justru membuat mereka bertengkar.

“Sering bertemu kamu, aku jadi sulit menulis.”

“Tapi bukankah aku selalu memberi kamu waktu jika kamu mau menulis? Setiap kali kamu butuh waktu untuk sendiri, aku rela tidak bertemu,” sang lelaki membela diri.

“Aku jadi tidak bisa menyerap suasana depresi lagi. Dulu aku terkenal sebagai penulis karya-karya yang memancing air mata. Sekarang, karya cerpenku picisan, sering happy ending jadi sering ditolak. Aku merasa bukan diriku lagi.”

“Mungkin suasana hatimu memang sedang bahagia. Lagipula ubahlah image itu. Untuk apa bangga menjadi penulis karya hitam? Karya-karya depresi. Tulislah tentang kebahagiaan, tentang hubungan kita misalnya? Tuliskan tentang kebahagiaanmu menemukan aku. Ayolah, aku tahu kamu penulis yang berbakat. Kamu hanya perlu mengolah sedikit rasa bahagia itu menjadi karya yang lebih indah.”

“Justru itu, selama bersama kamu, aku jadi kehilangan ciri khas tulisanku. Aku jadi penulis kacangan yang menulis segalanya serba indah. Kamu tahu, di luar sana banyak orang kelaparan, perkosaan dan kekerasan di mana-mana, tapi aku hanya menulis kisah cinta picisan dua orang yang berakhir bahagia?”

“Mungkin memang itulah porsimu sebagai penulis. Sebagaimana saat kamu menjadi jurnalis, kamu tak bisa menulis segala tema. Kamu akan berada di satu bidang, misal jadi jurnalis olahraga, jurnalis teknologis, jurnalis gaya hidup. Jurnalis pun ada bagiannya. Kamu bukan manusia super yang bisa menuliskan semua yang terjadi di dunia. Mungkin porsimu sebagai penulis cerpen memang kisah cinta dua manusia. Lagipula cinta itu luas. Kamu bisa menulis tentang cinta ibu dan anak, nenek ke cucu, sahabat, banyak jenis cinta yang belum dieksplorasi. Ayo, kembangkan imajinasimu.”

“Justru itu, karena terus bersamamu aku jadi tak bisa mengembangkan imajinasi. Aku terkurung di kamarku bersamamu, menonton DVD, ngemil, sesekali keluar untuk makan. Begitu saja selama setahun kita pacaran. Dan aku baru sadar karyaku tidak berkembang selama itu.”

“Jadi menurutmu, aku penghalang kariermu sebagai penulis cerpen?”

“Mungkin.”

“Kalau kamu mau kita berpisah dulu untuk sementara sampai kamu menghasilkan sebuah cerpen yang sempurna, aku bersedia.”

“Sementara? Aku ingin kita pisah selamanya. Aku rasa kamu bukan orang yang tepat untuk menemani sisa hidupku.”

“Baiklah, aku terima keputusanmu. Tapi jika suatu hari kamu mencariku lagi, aku belum tentu masih ada di tempat yang sama.” 

Mendengar jawaban itu, sang wanita justru menyesali keputusannya. Ia ingin menarik keputusan itu namun sudah terlanjur disetujui oleh sang kekasih, yang sejak detik itu sudah berubah menjadi mantan kekasih. Tak ada drama seperti di fim-film, bertengkar sampai menangis, lalu salah satu mencegah yang lainnya pergi. Perpisahan sudah disepakati. Sudah terjadi.




***

Satu bulan berlalu dan tak satu pun cerpen yang bisa ditulis oleh wanita itu. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku sastra namun tak juga mendapat inspirasi cerita. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan ke rumah sakit, tempat ia biasanya mendapat ide menulis cerpen yang menyayat hati. Bau rumah sakit yang identik dengan bau obat, isak tangis keluarga yang kehilangan anggota keluarga setelah gagal operasi, dokter yang berjalan terburu-buru, adalah pemandangan yang disukainya untuk menerbitkan inspirasi. Ia pernah lupa ide ini justru dicetuskan oleh kekasihnya saat mereka masih bersama. Jadi kebersamaan itu nyatanya tidak sedater apa yang pernah dituduhkan olehnya.

Wanita itu seketika merindukan kekasihnya tetapi tak berani menghubungi. Perasaan bersalah bercampur dengan rasa takut akan ditolak membuatnya menunda-nunda untuk menghubungi kekasihnya, atau mungkin sudah menjadi mantan kekasih. Ia gagal mendapat inspirasi setelah menjalani tur keliling beberapa rumah sakit di Jakarta. Ternyata ia lebih butuh rekan kerja daripada bekerja sendiri. Jalan-jalan sendirian di rumah sakit bukannya menerbitkan inspirasi malah menyebabkan kesepian yang teramat sangat.

Wanita itu pun memutuskan mencari kekasihnya ke toko buku, sebelum semuanya terlambat, sebelum semuanya benar-benar berakhir. Tapi ia memang sudah terlambat sebab lelaki itu sudah mengundurkan diri dari toko buku. Ia segera berinisiatif mencari kekasihnya ke tempat kos namun hasilnya sama-sama mengecewakan: lelaki itu sudah pindah kos sebulan lalu. 

Ia mengecek linikala twitter yang tak pernah dibukanya lagi sejak pertengkaran itu. Postingan tweet terakhir dari lelaki itu adalah di hari terakhir mereka bertemu. Lelaki itu hanya memposting kata: pada mulanya tiada dan kembali menjadi tiada. 

***

Wanita itu tak pernah tahu, bahwa kekasihnya itu melanjutkan mimpi menjadi penulis puisi. Ia mengundurkan diri dari toko buku, pindah bekerja sebagai masinis kereta api (sebab sebetulnya lelaki itu adalah lulusan teknik mesin yang belum beruntung mendapat pekerjaan sesuai bidang sehingga ia bekerja dulu di toko buku). Setelah perpisahan itu, ia mendapat panggilan dari PT. Kereta Api Indonesia untuk wawancara kerja. Ia hampir melupakan surat lamarannya sebab sudah begitu lama ia mengirim, baru dapat panggilan 4 bulan kemudian. Kesempatan itu tak disiakan. Lulus wawancara, psikotes, lalu ikut pendidikan masinis, semuanya dilakukan dengan penuh fokus. Lelaki itu sebelumnya sudah pindah kos agar dekat dengan stasiun kereta. Ia merasa hidupnya lebih baik setelah perpisahan dengan perempuan yang dicintainya.

Dua tahun berlalu sejak perpisahan itu dan sang lelaki sudah menjadi masinis yang juga penulis puisi. Dalam peluncuran buku puisinya, ia mendapat sambutan hangat dari pengunjung toko buku sebab seorang masinis ternyata juga bisa punya buku puisi. Wajahnya yang tampan dan usianya yang masih muda membuat lelaki ini seketika dibicarakan oleh pengguna media sosial. Follower twitternya terus bertambah namun ia tak pernah lagi ‘berkicau’ di akun itu. Ia terus mendapat mention karena banyak yang membicarakannya. Akhir-akhir ini, wajah-wajah ganteng dan cantik yang berprofesi unik memang sedang marak berseliweran di media sosial, misalnya Satpol PP cantik, camat ganteng, dan kini lelaki itu menjadi sasaran: masinis ganteng yang jadi penulis puisi. Tak sedikit yang ingin menjadi kekasihnya namun lelaki itu tak tertarik untuk ‘berkicau’ di twitter lagi.

***

Suatu hari yang cerah, saat masinis sedang mengerjakan tugasnya membawa kereta Argo Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung, ia melihat seorang wanita mirip seseorang yang sangat dicintainya, berdiri di tengah-tengah rel. Masinis itu mencoba membelalakkan matanya dan mencoba memperjelas benda apa atau siapa yang berdiri di jarak yang demikian dekat dengan kereta yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Hanya dalam beberapa detik, masinis memutuskan menghentikan kereta namun gagal. Mulut lokomotif sempat mencium tangan kanan sang wanita dan mengempaskan tubuh wanita itu hingga berguling-guling beberapa meter jauhnya. Saat ia turun dari kereta dan mencari tubuh wanita itu, yang didapat hanyalah darah segar yang diduga sang masinis berasal dari benturan kepala. Ia menghubungi stasiun kereta api terdekat dan kasus ini segera saja kembali geger di media sosial: sang masinis ganteng menabrak seorang wanita namun jasadnya tak bisa ditemukan.

Berhari-hari pencarian jasad wanita itu dilakukan namun tak juga memberikan hasil. Darah segar yang berceceran di sekitar rel hanya berhenti sampai di sebuah pohon seperti seolah-olah ada orang yang menolongnya, lalu mengangkat tubuh wanita itu ke suatu tempat. Polisi sudah menginterogasi warga sekitar rel kereta namun tak ada yang mengetahui ada seorang wanita tertabrak kereta. Akhirnya kasus ini ditutup oleh PT. KAI setelah satu bulan tak berkembang.  

Comments