[Cerpen] Rahasia Ranggani

Ranggani terkejut saat kekasihnya melamar di sela momen makan malam mereka. “Maukah kau menikah denganku?”

Jawabannya tentu tak semudah mengucap ya atau tidak. Ranggani memiliki masa lalu yang tak pernah diketahui oleh kekasihnya. Namun karena kekasihnya telah melakukan lamaran romantis itu, mau tak mau Ranggani harus mengakuinya.

“Sebelum aku jawab, aku ingin kita melakukan perjalanan ke Bandung,” ujar Ranggani.

“Bandung? Untuk apa? Bukankah orang tuamu di Solo?”

“Kata orang, kalau mau tahu apakah seseorang itu menjadi jodohmu, bawa saja traveling. Selama kita pacaran, tidak pernah ke luar Jakarta. Ayo, kita jalan-jalan. Yang dekat saja, Bandung.”

“Apa hubungannya jodoh dengan traveling?”

“Rumah tangga itu ibarat perjalanan, traveling. Kalau traveling bareng saja sudah banyak cekcok, sering bertengkar, bagaimana mau melakukan perjalanan rumah tangga puluhan tahun?”

“Baiklah, aku setuju. Kapan kita berangkat?”

“Besok.”

“Besok?”

Kekasih Ranggani lama merespon. Besok yang dimaksud oleh Ranggani adalah hari Senin. Mereka tak mungkin meninggalkan Jakarta di hari kerja.

“Minggu depan saja bagaimana? Biar aku ada persiapan. Aku akan memesan hotel dan tiket kereta api.”

“Aku tahu kamu sibuk. Biar aku saja yang mengurusi hal-hal itu. Pokoknya minggu depan kita berangkat ke Bandung. Nanti detailnya aku kirim lewat email,” ujar Ranggani menutup makan malam mereka yang berakhir dengan jawaban menggantung. Ranggani akan membuka rahasianya setelah mereka melakukan trip ke Bandung.





***

Ranggani dan kekasihnya berangkat ke Bandung satu minggu kemudian dengan menggunakan kereta api Argo Parahyangan. Mereka mengambil jadwal keberangkatan paling pagi: 05.00 agar sampai di Bandung tidak terlalu siang. Mereka tiba di Bandung 3 jam kemudian. Hari masih pagi untuk check in hotel sehingga mereka memutuskan sarapan dulu di dekat hotel di kawasan Setiabudi.

“Kita akan berada di Bandung selama satu minggu. Setiap hari kita akan berpindah hotel dan berganti tujuan wisata,” jelas Ranggani.

“Mengapa harus ganti-ganti hotel?”

“Agar tidak bosan,” jawab Ranggani singkat. “Dan kita akan berpisah kamar, karena kita belum menikah jadi tak boleh tidur satu kamar.”

“Baiklah, itu bukan masalah buatku.”

Selama tujuh hari, mereka memang berpindah-pindah hotel. Tapi yang akhirnya memberatkan kekasih Ranggani adalah kenyataan bahwa hotel yang mereka tempati tidak memiliki grade yang sama. Artinya, jika malam ini mereka menginap di hotel berbintang lima, besok malamnya mereka menginap di hotel melati, bahkan yang ada fasilitas booking per jam! Lalu kembali ke hotel bintang tiga, lalu bintang dua, lalu ke hotel kelas melati lagi.

“Kalau kamu tak punya uang, aku bisa membayar kamar hotel kita. Tak perlu pindah-pindah dari hotel berbintang ke kelas melati begini.”

“Bukan itu maksudku membawamu ke tempat seperti ini. Rasakan saja dulu tempatnya, nanti di hari terakhir aku akan jelaskan semuanya,” jawab Ranggani santai.

Kekasih Ranggani masih tak mengerti apa yang hendak disampaikan oleh calon istrinya itu. Semuanya masih misteri sampai hari terakhir tiba. Mereka mengunjungi banyak tempat wisata: Saung Angklung Udjo, Curug Dago, Floating Market Lembang, Tangkuban Perahu, Kawah Putih, hingga Situ Patenggang. Karena lebih banyak tempat wisata berada di Lembang, maka Ranggani memang lebih banyak memesan kamar hotel di kawasan itu, tetapi dengan kelas yang berbeda setiap hari.

Di hari terakhir, mereka makan malam di The Peak, sebuah restoran yang menawarkan pemandangan kota Bandung dengan lampu-lampunya. Indah dan romantis. Kekasih Ranggani berharap trip mereka akan berakhir dengan jawaban yang diharapkannya.

“Bagaimana, trip kita lancar-lancar saja, kan?” tanya kekasih Ranggani tak sabar. Ia sudah menuruti permintaan Ranggani untuk melakukan trip ini.

Ranggani tersenyum kecil. “Iya, kamu sepertinya lelaki yang baik. Kita berada di tempat asing tetapi kamu selalu menjagaku. Kamu tak pernah mencari celah untuk merusakku.”

“Merusakmu? Maksudnya?”

“Ya, meminta bercinta. Padahal kita berada di kota yang dingin dan layak untuk dijadikan alasan memuaskan nafsu. Tapi kamu tetap tidur di kamarmu, sesekali menelepon ke kamarku untuk mengetahui bahwa aku baik-baik saja. Selama tur ke tempat-tempat wisata pun kamu begitu menghargaiku, menjagaku, tidak pamer di depan orang. Karena aku lihat banyak pasangan yang mengumbar kemesraan di depan orang lain, di tempat umum. Kita tidak begitu. Aku senang punya kekasih sepertimu. Aku merasa dihargai sebagai perempuan.”

“Jadi, kamu bahagia bersamaku?”

Ranggani hanya mengangguk. “Tapi …”

Bagian ini yang tidak disukai kekasih Ranggani. Kata ‘tapi’ akan membawa berita buruk. Sesuatu yang tidak disangka-sangka. Kekasih Ranggani tak berharap ada kata ‘tapi’ setelah Ranggani menyatakan kebahagiaannya.

“Tapi kamu terlalu baik untukku.”

Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Ranggani. Kekasih Ranggani sudah terlalu sering mendengar kata-kata itu ketika ditolak oleh perempuan yang disukainya zaman sekolah dulu. Dan kini, di usia dewasa, saat ia melamar seseorang untuk menjadi istrinya, mengapa ia masih harus mendengar kata-kata itu?

“Jadi kamu menolak menjadi istriku?” kekasih Ranggani berusaha menegaskan agar tak salah mengartikan kata-kata Ranggani.

“Dengarkan aku baik-baik, Vino. Aku punya masa lalu yang aku yakin tak ada satu pun lelaki yang akan menerimanya. Sewaktu kuliah dulu, aku adalah seorang ayam kampus. Kamu tahu artinya? Pelacur! Aku menjual tubuhku untuk membiayai gaya hidupku sebab orang tuaku miskin. Mereka hanya sanggup membiayai kuliah, kos, dan makanku, itu pun kadang terlambat, sampai aku harus menginap di kos teman agar tidak ditanya-tanya terus oleh ibu kos. Suatu hari aku diajak teman ke sebuah tempat hiburan malam. Aku dan temanku mabuk sampai kami tak bisa berjalan. Kami dibawa oleh sekumpulan lelaki yang menyatakan akan mengantar kami pulang. Ternyata kami malah dibawa ke rumah salah satu dari mereka dan aku diperkosa. Temanku juga. Kami tidak lapor polisi karena aku dan temanku sama-sama menanggung malu. Biarlah aib ini kami simpan sendiri. Kami sama-sama anak rantau yang tak ingin mencoreng muka orang tua, tak ingin nama kampus juga jadi terkenal karena kasus ini. Akhirnya aku menjual tubuhku sendiri. Menggunakannya untuk senang-senang, membiayai gaya hidupku. Itu aku lakukan sekadar untuk menghina para lelaki. Jika mereka mau tubuhku, mereka harus membayar. Aku tak akan membiarkan tubuhku digunakan gratis lagi.”

“Tapi kamu sekaligus menghina diri kamu sendiri.”

“Benar. Aku baru menyadarinya ketika satu persatu temanku wisuda dan menikah, sementara hidupku berantakan: dugem, seks, minum alkohol, kuliah mengulang terus. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dari dunia hitam itu. Aku ingin hidup normal: menyelesaikan kuliah lalu bekerja yang halal. Aku mencoba mencari pekerjaan dan akhirnya bekerja sebagai Sales Promotion Girl sebuah produk rokok. Sembari kuliah, aku dapat uang tambahan yang cukup besar. Meski sesekali ada pembeli yang nakal dan mengajakku dengan menjanjikan uang lebih besar, aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa aku ingin berubah. Akhirnya kuliahku selesai juga setelah hampir drop out. Lalu aku mendapat pekerjaan di Jakarta dan bertemu denganmu. Kita menjalin hubungan sampai sekarang. Boleh dibilang, kamu cinta pertamaku. Pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta itu hanya denganmu. Justru karena aku mencintaimu maka aku tak ingin menyembunyikan apa pun darimu. Alasanku membawamu ke Bandung dan menginap di hotel yang berbeda adalah agar kau bisa merasakan hotel-hotel yang pernah aku gunakan bersama pelangganku.”

Seketika Vino merasakan perutnya teraduk-aduk. Ia mual. Pemandangan di hadapannya tak lagi terlihat indah. Angin malam mulai terasa menggigit tubuhnya hingga ke tulang. Entah ia menggigil karena dingin atau karena cerita jujur yang diungkapkan Ranggani.

“Sekarang aku yang balik bertanya, setelah mendengar cerita ini, apakah kau masih ingin menikahiku?” tanya Ranggani.

Kali ini Vino yang terdiam. Jawabannya tak semudah mengatakan ya atau tidak. Di satu sisi, ia bersyukur Ranggani mau jujur pada masa lalunya, tapi di sisi lain, ia juga tak bisa begitu saja menerima masa lalu sehitam itu. Apa kata orang tuanya jika tahu perempuan yang dinikahinya adalah mantan ‘ayam kampus’?

“Semua orang punya masa lalu, Ranggani. Terima kasih telah jujur kepadaku. Tapi aku manusia biasa, lelaki biasa yang akan terluka mendengar pengakuan seperti ini.”

“Aku tahu, maka aku tak langsung menerima lamaranmu meskipun aku sangat ingin menikah denganmu. Aku mencintaimu, maka aku tak ingin menutupi masa laluku kepada orang yang kucintai. Dengan ini aku berharap kamu bisa mempertimbangkan lagi, apakah kamu yakin ingin menikah denganku?”

Vino tak memberi jawaban pasti malam itu. Keadaan kini berbalik. Vino kini yang menggantung jawaban untuk Ranggani. Bedanya, jika pada mulanya Vino terus menanti jawaban, Ranggani kini tidak butuh jawaban. Ya atau tidak sudah bukan lagi masalah. Bagi Ranggani yang terpenting adalah kebahagiaan kekasihnya.

Comments