[Cerpen] Reyhan dan Hujan

Di Jakarta, hujan bukanlah hal yang romantis. Banjir dan macet adalah dua hal yang tak bisa tidak, akan terjadi kala hujan. Para karyawan kantoran yang sehari-hari menggunakan sepeda motor akan tampak berkerumun di bawah jembatan layang untuk membuka jas hujan di jam berangkat atau pulang kerja. Pengguna kendaraan umum mengejar-ngejar bus dalam keadaan becek sambil memegang payung. Para pedagang kaki lima harus menyelamatkan dagangan kalau tak mau bangkrut. Semua ditutupi plastik, berharap hujan tak akan lama.

Di Jakarta, hujan memang bukan hal yang romantis. Ini dialami pula oleh Reyhan. Ibunya pedagang sayur di pasar Palmerah dan ayahnya pedagang DVD bajakan di Perempatan Slipi. Setiap hari Reyhan selalu membantu kedua orangtuanya berjualan secara bergantian. Jika hari Senin ia membantu ibunya, maka Selasa ia akan membantu ayahnya. Maka ia tahu betul kerepotan ibu dan ayahnya ketika hujan datang. Sayur-sayuran dan tumpukan DVD akan ditutupi plastik bening berukuran jumbo. Ia akan memandangi dagangan ibu atau ayahnya sambil berdoa semoga hujan cepat reda. Ibu dan ayahnya hanya berjualan di malam hari sehingga jika hujan turun semalaman, mereka nyaris tak punya penghasilan sama sekali.

“Bu, besok Reyhan mau jadi ojek payung, boleh?” tanya Reyhan suatu pagi.

“Di mana? Siapa yang mengajak kamu?” ibunya balik bertanya.

“Teman-teman. Boleh, Bu?”

 “Kenapa kamu mau ojek payung, Nak?”

“Beberapa hari ini Ibu dan Ayah tidak punya penghasilan karena hujan. Rey belum bayar uang sekolah,” ujar Reyhan dengan kepala menunduk.

ibunya menghela napas berat, lalu menoleh kepada sang ayah.

“Kamu boleh ojek payung kalau sudah mengerjakan PR,” ujar sang ayah.

Setelah mendapat jawaban itu, Reyhan lalu pamit pada kedua orang tuanya untuk berangkat ke sekolah. Ia kini sudah duduk di kelas 6 SD.


***

Sudah satu minggu ini Reyhan rajin membawa payung besar untuk bekerja sebagai ojek payung di sebuah kawasan perkantoran. Ia tak mematok harga. Siapa pun yang membutuhkan jasanya bisa membayar berapa pun yang mereka ingin. Kadang ia dapat Rp 5 ribu, kadang Rp 3 ribu, bahkan ada yang memberi Rp 10 ribu karena sedang terburu-buru dan tak membawa uang kecil.

“Tidak ada kembalian, Bu,” ujarnya polos.

“Ambil saja. Terima kasih,” ujar seorang ibu yang berjalan agak cepat. Reyhan kemudian mencari orang lain yang terlihat membutuhkan jasanya. Ia rela kuyup demi bisa mendapat penghasilan yang bisa ia berikan kepada orangtuanya.

Sampai akhirnya gagang payung itu dipegang oleh seorang wanita berusia 32 tahun. Ia berjalan pelan, sangat hati-hati, karena mengenakan heels setinggi 7 cm dan harus berjalan di jalanan yang basah dan cenderung licin. Reyhan mengikuti di belakang dalam keadaan kehujanan, seperti biasanya.

“Masuklah,” ujar wanita itu menawarkan untuk berjalan beriringan di dalam payung yang dipegangnya.

“Terima kasih. Saya tidak apa-apa,” jawab Reyhan.

“Kamu sudah basah begitu. Tidak kedinginan?” wanita itu sesekali menoleh ke belakang, mengecek kondisi Reyhan.

“Tidak. Sudah biasa,” jawab Reyhan sambil menunduk dan terus berjalan di belakang sang wanita bersepatu heels tinggi itu.

“Berapa umurmu?” tanya wanita itu saat tiba di tempat yang ia ingin tuju.

“Dua belas,” jawab Reyhan singkat. Ia menerima payung dari wanita itu dan kemudian satu lembar uang seratus ribuan.

“Siapa namamu?”

“Reyhan. Waduh, tidak ada kembalian, Bu,” ujarnya sambil merogoh kantung celana dan hanya menemukan uang Rp 25 ribu. Wanita itu sedikit terkejut saat mendengar nama itu.

“Ambil saja untuk kamu, Reyhan.”

Wanita itu langsung masuk ke dalam gedung dan meninggalkan Reyhan yang masih bengong dengan uang Rp 100 ribu di tangannya.





***

Wanita berusia 32 tahun itu menatap jendela apartemen dalam pandangan hampa. Hujan yang memberi tetes-tetes air di jendela yang lebar selalu membawanya kepada kenangan pahit dalam hidupnya. Dua belas tahun lalu, ia masih seorang gadis lugu yang sangat mencintai hujan. Hujan selalu membawa inspirasi. Cerpen, puisi, sering ia tulis sambil memandangi hujan di jendela kamarnya di Bandung. Ia juga pernah berciuman dengan cinta pertamanya, di dalam hujan, di usia 17.

Lalu setahun kemudian ia harus menjalani hubungan jarak jauh dengan cinta pertamanya itu. Kekasihnya menimba ilmu ke Paris, mengambil jurusan Seni Rupa. Sedangkan ia sendiri mendapat beasiswa di sebuah Universitas Negeri di Bogor. Karena 12 tahun lalu teknologi belum secanggih saat ini, hubungan mereka kandas.

Beruntung, ia mendapat dosen seorang penyair yang diidolakannya sejak SMP. Memilih jurusan Sastra Indonesia telah memberinya kesempatan untuk bertemu sang dosen. Hubungan mereka bahkan berlanjut di luar kampus. Sang dosen sering meminta ia datang ke rumah untuk berdiskusi tentang sastra. Tentu saja hal ini sangat membahagiakan bagi sang wanita yang kala itu masih gadis yang lugu.

Ia sering meminjam buku koleksi sang dosen. Juga sering dibantu mengerjakan tugas kuliah. Hingga, saat hujan tiba dan ia terjebak di rumah sang dosen karena tak membawa payung, tragedi itu pun terjadi.

Wanita yang kini berusia 32 tahun itu menghela napas berat sembari memejamkan mata saat bayangan itu kembali hadir. Ia meraba bagian bawah perutnya. Di dalam sana ia pernah mengandung anak sang dosen dari hasil pemerkosaan. Kasus itu tak pernah menjerat dosen biadab itu ke dalam penjara, hingga 12 tahun lamanya. Anak itu lahir tanpa ayah, juga akhirnya dibuang oleh sang ibu. Petir menggelegar dahsyat saat ia ingat kembali peristiwa itu.

***

“Reyhan dapat uang lumayan, Yah, dari hasil ojek payung,” ujar ibu Reyhan kepada suaminya, setelah Reyhan pamit berangkat ke sekolah. “Kemarin sore katanya dia dapat seratus ribu dari perempuan kantoran. Anak itu ternyata baik sekali, rajin juga. Tidak salah kita meminta untuk mengasuh dia saat ditemukan warga di tempat pembuangan sampah. Anaknya rajin sekali, nurut sama orang tua, ah, seandainya dia itu anak kandung kita.”

“Bukannya kamu sudah janji, tidak akan pernah mengungkit-ungkit itu lagi? Kita sudah janji sama pak RT, sama warga sini, kalau kita tidak akan pernah menganggap dia anak yang ditemukan di tempat sampah. Semua warga sini sepakat menyebut dia anak kita. Sudahlah, Bu, jangan disebut-sebut lagi soal itu.”

“Iya, Ibu tahu. Ibu cuma kasihan sama anak itu. Padahal dia baik sekali, tapi kenapa orangtuanya membuang dia, ya?”

“Sudahlah, Bu. Biarlah Tuhan yang akan menghukum orangtua Reyhan. Tugas kita sekarang, memberi kehidupan yang layak dan membuat dia bahagia sampai dia dewasa. Walaupun cuma ini yang bisa kita berikan. Sekolah murah, makanan murah, rumah kontrakan sempit. Dia sudah membawa kebahagiaan dalam rumah tangga kita yang tidak dikaruniai anak ini.”

Sang ibu memandang uang yang disetorkan Reyhan dengan getir. Ia ingat, dua belas tahun lalu ia menerima Reyhan bayi dalam keranjang buah. Di dalamnya, Reyhan tertidur nyenyak. Di atas selimutnya, ada sebuah tulisan:

Tolong rawat anak ini, namanya Reyhan. Artinya tanaman yang harum. Saya berharap Reyhan bisa mengharumkan nama orangtua yang merawatnya.

Kertas itu masih disimpan oleh ibu Reyhan beserta keranjang buahnya. Rapi berada di dalam lemari baju yang tak akan pernah dibuka oleh Reyhan.

“Buang saja keranjang buah itu, Bu,” terdengar suara suaminya dari depan pintu kamar.

***

Ia dinamakan Zaira sebab ibunya begitu menyukai bunga mawar. Zaira tumbuh menjadi gadis yang cantik dengan hidung mancung, alis tebal, dan rambut panjang yang hitam kelam bagai langit malam tanpa bintang.

Zaira meninggalkan Bandung untuk kuliah di Bogor karena ingin menjadi seorang sastrawan. Ia belajar Sastra Indonesia dan merasa beruntung mendapat dosen seorang penyair idolanya. Tetapi dosen itu memerkosa Zaira di saat hujan deras mengguyur kota Bogor dan menahan dirinya yang sedang berada di rumah sang dosen. Zaira hamil. Ia melapor ke polisi tetapi sudah terlambat. Tak ada bukti pemerkosaan, tak ada saksi. Proses hukum yang berbelit-belit membuat Zaira harus selalu menceritakan kronologis kejadian itu padahal trauma yang dialaminya belum sembuh. Janin dalam kandungannya hidup, berkembang, dan usia kandungan semakin bertambah, tapi sang dosen tak kunjung mendapat hukuman atas perbuatannya. Zaira melahirkan bayinya di Bogor, ditemani oleh sang ibu. Tetapi di tengah malam ia berhasil kabur membawa bayinya. Ia naik taksi ke Jakarta, hanya untuk pergi sejauh mungkin dan membuang bayinya ke sebuah tempat pembuangan sampah, setelah menaruh bayi merah itu di dalam keranjang buah. Ia telah memberi nama bayi itu dengan nama Reyhan. Setelah itu ia kembali ke rumah sakit di Bogor untuk meminta ampun kepada ibunya. Sebelum kata maaf itu terucap, sang ibu keburu pingsan.

Zaira membuka lembaran baru hidupnya dengan menjadi penulis novel tanpa melanjutkan kuliah. Ia menggunakan nama pena agar karyanya tak lagi dihubunghubungkan dengan masa lalu. Karyanya sukses dan ia pindah ke Jakarta karena mendapat tawaran menjadi editor di sebuah perusahaan penerbitan. Zaira harus bertemu banyak penulis yang tulisannya diedit olehnya.

Dua belas tahun berlalu dan ia tak kunjung melupakan Reyhan, bayi yang tak diinginkannya tetapi kini begitu ia rindukan. Seandainya dulu ia tak membuang Reyhan, mungkin saat ini tak akan kesepian di dalam apartemen di lantai 25 ini. Pertemuannya dengan Reyhan sang tukang ojek payung mengingatkan Zaira kepada bayi merah itu. Jika masih hidup, tentu anaknya akan sebesar Reyhan yang itu. Apakah anak itu adalah Reyhan yang sama?

Hujan kembali mengguyur Jakarta. Jendela besar itu kembali dihiasi titik-titik air. Zaira masih saja sendiri. Masih merindukan anaknya. Tangisnya menitik, lalu menderas, seolah berlomba dengan hujan. Hujan memang bukan hal yang romantis lagi baginya, dan mungkin bagi sebagian besar penduduk Jakarta.

Comments