Menenangkan Rindu Bersama Aan Mansyur


Dia meninggalkanmu agar bisa selalu mengingatmu. Dia akan pulang untuk membuktikan, mana yang lebih kuat, langit atau matamu.

Itulah petikan puisi Menenangkan Rindu karya Aan Mansyur yang saya sukai. Puisi itu ada di dalam buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja. Buku ini unik, sebab tak hanya berisi teks tapi juga gambar yang dikreasikan oleh Muhammad Taufiq (Emte). Sejujurnya saya jarang baca buku puisi karena puisi kadang terlalu rumit untuk dimengerti. Tapi tidak dengan buku ini. Dalam beberapa bagian puisi, perasaan saya terwakili.



Berikut akan saya kutipkan secara acak, kutipan-kutipan yang mewakili perasaan saya saat membaca buku ini. Saya sengaja tidak menyertakan berasal dari puisi berjudul apa dan saya menggabungkannya hingga mengalir menjadi satu kisah -yang saya paksakan utuh :)

Dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan membuatmu bersedih suatu kelak.

Pukul 5:17 sore. Aku tidak yakin kepada segala sesuatu --kecuali dada yang memar dalam puisi ini. Juga rasa samar antara manis dan pahit kopi yang tinggal sepah.
Pada siang hari, aku tidak bisa melihat kesedihan. Tapi, pada malam hari, aku merasa kesedihan selalu mampu menampakkan diri dan membelai kepalaku --membiarkanku tidur di pangkuannya sebagai anak kecil.
Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan mengenang orang-orang yang hilang.
Kelak aku seorang asing bagimu. Tidak lebih satu wajah entah siapa tersesat di keramaian festival.
Aku ranting yang kemarin sore kau potong karena menyentuh kaca jendelamu. Akan kau dengar aku tidak berhenti mengucap namamu ketika apimu menghabisi tubuhku sekali lagi.  
Kita telanjang, bergandengan tangan, berjalan dalam gelap dan tiba di tebing, lalu terjun ke sungai tapi kau tidak.
Aku memilih hidup sebagai penjahat yang ceroboh --cuma tahu melukai hidup sendiri.
Masa lalu hanya indah bagi orang-orang yang tidak menyentuhkan kakinya pada masa kini.
Setiap hari adalah kekasih yang gagal mengucapkan selamat tinggal. Kadang-kadang kau yang harus tega mengecupkan selamat jalan. Dia barangkali sudah terlalu sakit untuk pergi --seperti matahari yang takut tenggelam hari ini.
Kejahatan ada di mana-mana. Di kota-kota atau di kata-kata, atau pada sesuatu yang kau sebut kita. Dalam bentuknya yang paling sempurna, dia bernama kebahagiaan.
Di internet, bahkan orang yang sangat jauh dapat menyakiti kita. Aku suka mereka menyakitiku dari kejauhan. Aku menjadi lebih mencintai diriku dan hal-hal yang sering kuanggap rapuh.
Mereka tidak tahu, jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaan yang berbeda.
Ada kalanya puisi seperti cinta. Tidak tahu di mana harus berhenti.

Selain beberapa petikan puisi, ada beberapa puisi yang saya sukai secara utuh, artinya bukan hanya beberapa petikannya saja. Misalnya judul-judul berikut (urutan berdasarkan level favorit saya):
1. Menikmati Akhir Pekan
2. Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia
3. Surat Pendek Buat Ibu di Kampung
4. Menjadi Kemacetan

"Surat Pendek Buat Ibu di Kampung" membuat saya seketika teringat ibu saya di kampung dan apa yang tertulis di situ adalah apa yang saya lakukan kepada ibu saya. Pada "Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia" juga mewakili dendam saya melihat foto keluarga orang lain yang bahagia. Saya juga tak pernah punya foto keluarga di rumah saya, seperti keluarga Aan Mansyur. Sedangkan "Menjadi Kemacetan" buat saya merupakan gambaran kehidupan pasangan urban di Jakarta. Saya beberapa kali mengalami kemacetan bersama pasangan saya (kini mantan) dan membaca puisi itu saya membayangkan pasangan eh mantan saya itu sedang memandangi saya dalam kemacetan.

Dan puisi terakhir, izinkan saya mengutipnya utuh di sini, sebagai gambaran bagaimana saya menikmati akhir pekan:


Menikmati Akhir Pekan
 
Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.
Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.  


Saya menikmati akhir pekan bersama buah karya Aan Mansyur untuk menenangkan rindu.




Comments

bagoezone said…
beberapa hari yang lalu aku beli buku ini,entah kenapa belum sempet baca, nunggu waktu yang bener bener tepat buat baca buku sebagus ini..
Tenni Purwanti said…
Saya pun menunggu waktu yang tepat untuk membacanya. Jadi santai saja, jangan jadi beban :)