Kepala Tiga



Saya membayangkan, di usia 30 tahun saya adalah seorang ibu dari seorang anak perempuan  berusia 2 tahun (karena saya pernah bercita-cita menikah di usia 27 tahun dan melahirkan setahun kemudian). Saya perlahan mulai meninggalkan pekerjaan saya sebagai jurnalis, menjadi ibu penuh waktu dan menulis cerpen atau novel di waktu senggang. Saya membayangkan, di usia 30 salah satu novel saya best seller, dibicarakan banyak orang. Tidak perlu muluk dapat penghargaan bergengsi internasional. Dibaca dan dibicarakan banyak orang pun sudah sebuah penghargaan. Suami saya adalah lelaki yang pengertian, tidak iri dengan pencapaian istrinya, dan bersedia menjaga anak perempuan saya ketika saya harus pergi ke luar kota untuk meet and greet.

Tetapi kadang apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan, meski untuk keinginan-keinginan yang mungkin begitu sederhana bagi segelintir orang. Semua yang saya tidak ada yang terwujud di usia saya yang kini resmi kepala tiga.  Tidak ada novel yang dibicarakan semua orang, tidak ada suami (bahkan beberapa hari sebelumnya baru saja putus sama pacar), apalagi berharap ada seorang anak
perempuan.

Semalam mata saya sembab oleh air mata mengingat bahwa hal-hal sederhana yang saya impikan bertahun-tahun ini tidak kunjung saya dapatkan. Tetapi akhirnya saya sadari sepenuh hati, semua adalah akibat kesalahan-kesalahan saya sendiri. 

Saya tidak menggunakan waktu-waktu saya sebelum usia 30 untuk menulis novel yang bisa dibaca hingga dibicarakan banyak orang. Saya tidak bisa mempertahankan hubungan yang sudah berjalan dua tahun bersama kekasih saya. Segala hal tidak turun begitu saja dari langit. Semua harus diusahakan.

Tahun lalu, beberapa hari setelah hari ulang tahun, saya mendapat email dari Ubud Writers and Readers Festival bahwa saya terpilih sebagai Emerging Writers. Tahun ini, tak ada kejutan istimewa di hari ulang tahun saya. Ya tentu saja tidak ada, saya tidak menulis karya apa pun selain fan fiction AADC! Betapa malasnya! 

Saya merasakan kemunduran yang siginifikan dalam hidup saya justru di usia kepala tiga. Awalnya saya ingin mengutuk Tuhan dan hidup yang tidak adil. Tapi saya sadar, Tuhan bisa mengutuk saya lebih dulu dan menyiksa saya lebih pedih sebelum saya melakukan hal-hal konyol lain yang meragukan kebesaran-Nya.

Maka, di usia kepala tiga ini, saya hanya berharap saya bisa jadi manusia yang sepenuhnya sadar. Sadar bahwa waktu saya tinggal sedikit lagi di dunia ini. Sadar bahwa waktu tidak akan pernah berjalan mundur dan apa yang saya lakukan detik ini akan mempengaruhi apa yang terjadi di masa depan. 

Doa saya hari ini: semoga di usia kepala 4 nanti saya tidak lagi menuliskan penyesalan-penyesalan, keluhan, dan kutukan kepada Tuhan seperti ini. Semoga Tuhan membukakan hati dan pikiran saya untuk terus maju, memperbaiki apa yang telah rusak dan meninggalkan apa yang perlu ditinggalkan di masa lalu. Tetapi tentu saja saya harus lebih dulu berdoa, semoga saya panjang umur, sehingga bisa menikmati kepala 4, kepala 5, kepala 6, dan seterusnya, dengan seorang suami yang setia,
pengertian, mapan, dan seorang anak perempuan cerdas yang selalu mendukung dan mendoakan ibunya.

Amin.

Comments