Menulis dan Olahraga Bersama Murakami


"Buku ini akan membuat fans Murakami tergila-gila, bahkan sebelum sampai ke kasir."
- The New York Times.


Saat memutuskan membeli buku ini, saya sempat berpikir NYT lebay. Apa sih hebatnya buku ini? Setelah membacanya, saya jadi ikut tergila-gila.

Saya mengenal karya Haruki Murakami saat membaca Norwegian Wood saat kuliah (jadi begini, saya masuk kuliah tahun 2004 dan lulus tahun 2008, dan saya lupa kapan tepatnya saya membaca Norwegian Wood). Waktu itu saya memang tergila-gila dengan novel itu tapi saya belum sampai pada tahap ingin membaca karya Murakami yang lain, seperti yang saya lakukan ketika menyukai karya seorang penulis. Saya sempat ingin baca IQ 84 yang tebalnya enggak kira-kira itu, tetapi karena berseri, saya berpikir untuk menamatkan Tetralogi Pulau Buru dulu yang sampai kini belum kelar-kelar juga bacanya (damn!). -Maafkan hamba, opa Pram-

Baik, cukup pembukaannya. Jadi, kira-kira hampir 10 tahun sejak perkenalan saya dengan karya Haruki Murakami, saya akhirnya kembali membeli bukunya, kali ini bukan novel, tetapi semacam memoar, memoar seorang penulis yang menjadi pelari maraton. Saya sempat ragu, apa menariknya buku tentang lari? Hey, baca saja judulnya, Ten, kamu tak akan suka! Tapi akhirnya saya beli juga karena penasaran.


Judul: What I Talk About When I Talk About Running (terjemahan)
Penerbit: Bentang Pustaka
Penulis: Haruki Murakami
Jumlah halaman: 197


Buku yang tergolong tipis ini tak akan mengajarimu bagaimana cara berlari yang baik dan benar, atau bagaimana menjadi pelari maraton yang mumpuni. Tidak, buku ini tidak se-cheesy itu. Ini adalah memoar seorang penulis yang memutuskan menjadi penulis sekaligus pelari. Meski di bab 2 secara spesifik Murakami memberi judul babnya dengan: "Bagaimana Seseorang Bisa Menjadi Penulis Sekaligus Pelari?" 
tapi sungguh, ini bukan buku "how to" yang kamu pikir.

Buku ini adalah memoar Murakami tentang aktivitas berlari yang ditulis Murakami antara musim panas 2005 dan musim gugur 2006. Sesuai pengakuannya, buku ini merekam pikiran serta perasaan Murakami sesuai dengan tempat dan waktu saat ia menuliskannya. 

Selain merekam aktivitas berlarinya, Murakami juga sesekali menyisipkan tentang hubungan antara aktivitas berlarinya dengan kegiatannya menulis novel. 

Para pelari secara umum menetapkan terlebih dahulu target pribadinya, misalnya "hari ini berlari dengan waktu berapa lama." Setelah itu, barulah ia maju ke jalur lomba. Apabila dia mampu berlari dalam target waktu yang telah diterapkannya, baginya akan terasa "sudah menghasilkan prestasi atau sesuatu". (halaman 12)
Hal yang sama juga bisa dijelaskan melalui sudut pandang pekerjaan. Dalam pekerjaanku sebagai penulis, setidaknya -menurutku- tidak ada kalah atau menang. Bisa jadi jumlah penjualan buku, penghargaan di bidang sastra, kritikan pedas ataupun penilaian baik dari pembaca akan menjadi indikasi sebuah prestasi, tetapi faktor sebenarnya tidak bisa dikatakan. Apakah hasil tulisan sesuai atau tidak dengan standar yang diharapkan oleh diri sendiri akan menjadi hal yang lebih penting daripada segalanya dan itu adalah sesuatu yang tidak mudah dijadikan alasan. (halaman 13)

Bagi Murakami, menulis novel (atau pekerjaan lain), sama dengan berlari. Seorang penulis harus menetapkan standar bagi dirinya sendiri dan menilai kesuksesan karyanya bukan dari penilaian orang lain, melainkan dari standar yang telah ditetapkan oleh diri sendiri itu. Pelari yang menetapkan standar untuk berlari sekian kilometer dalam satu jam tidak akan kecewa sekalipun ia dikalahkan oleh orang lain dalam hal waktu di perlombaan maraton, selama pelari itu melakukan hal yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkannya.

Itu hanya salah satu hal yang membuat saya menyukai buku ini. Hal lainnya adalah, Murakami sadar (dan sekaligus mengingatkan) para penulis (atau calon penulis) untuk memahami bahwa aktivitas yang mereka lakukan sebagai penulis adalah aktivitas yang berbahaya. Itu sebabnya penulis perlu mengimbanginya dengan berolahraga. Seperti kutipan berikut:


Banyak orang di Jepang masih berpikir bahwa menulis novel merupakan aktivitas yang tidak sehat, di mana para novelis hidup terpuruk dan harus menjalani yang berbahaya demi bisa menulis. Pada dasarnya aku setuju dengan pendapat bahwa menulis novel merupakan tipe pekerjaan yang tidak sehat. (halaman 108) 
Akan tetapi, mereka yang berharap dapat memiliki karier panjang sebagai penulis profesional harus bisa membangun sistem kekebalan pada dirinya untuk menahan racun berbahaya (pada beberapa kasus, bahkan menyebabkan kematian). Namun, kita butuh tenaga yang besar untuk dapat menciptakan narasi yang lebih kuat untuk menangani racun itu. (halaman 109)

Ketika menulis cerpen, saya tidak terlalu menyadari ini karena cerpen selesai dalam waktu cepat. Namun saat mulai menulis novel, saya merasakan tubuh saya mulai pegal-pegal di sana-sini. Peredaran darah saya sepertinya mulai terhambat di sana-sini karena kebanyakan duduk di depan laptop. Setelah membaca buku ini saya sempat mencoba untuk bangun pagi dan jalan cepat selama 30 menit, rutin setiap hari. Rasanya luar biasa beda. Saya merasa lebih segar dan tubuh saya mulai menolak makanan-makan racun (tinggi lemak jenuh, tinggi kolesterol). Tapi efek sampingnya adalah tubuh saya mudah mengantuk di malam hari (meski itu bukan efek samping yang buruk seharusnya). Sehingga, kegiatan menulsi novel saya terganggu. Terpaksa saya menghentikan olahraga itu. Akibatnya, tubuh saya kembali pegal di sana-sini, gampang lelah, gampang stres. Jadi memang, menulis novel itu aktivitas yang berbahaya dan saya sedang berjuang menemukan formula agar tetap bisa berolahraga sambil menulis novel (atau sebaliknya), tanpa mudah mengantuk di malam hari karena kelelahan.

Di buku ini, Murakami berbagi perjuangannya untuk konsisten berlari dengan target yang ia tetapkan sendiri. Ia cukup ambisius dalam menerapkan target, tapi sekaligus realistis karena sadar sepenuhnya bahwa dari tahun ke tahun usianya terus bertambah dan tubuhnya mulai menyesuaikan dengan usia. Murakami juga berbagi tentang perjalanannya menulis novel, sejak kapan ia pertama kali memutuskan untuk menjadi penulis novel, hingga pada akhirnya memutuskan menjadi penulis novel yang juga pelari.

Tidak semua orang bisa berlari maraton, sekaligus tidak semua orang juga bisa menulis novel secara profesional. Keduanya membutuhkan tak sekadar niat tapi juga latihan yang keras kepala. Jika kamu saat ini sedang memulainya, membaca buku ini akan menemanimu berjuang. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Murakami menceritakan dengan detail, bagaimana rasanya tubuh seperti berpisah dengan roh saat berlari 100 km dan semuanya berjalan autopilot, bagaimana ia pernah panik karena kacamata renangnya buram akibat ia ceroboh mengoleskan vaseline saat triathlon, bahkan sesederhana kisah ia didahului mahasiswi-mahasiswi cantik berkucir kuda saat berlari. Atau, saat ia teringat seorang perempuan India yang ditemuinya setiap pagi namun tak pernah mengenakan baju yang sama.

Membaca buku ini saya merasa seperti sedang berlari bersama Murakami dan diceritakan: "jadi begini lho waktu itu ... rasanya tuh gini ... "

Dari buku ini juga saya baru tahu kalau Murakami seorang introvert yang tidak nyaman berbicara dengan orang asing dan sulit berbasa-basi, namun pada akhirnya ia malah memiliki banyak teman seperjuangan saat berlari maraton.

Ketika kita mengerjakan sesuatu yang kita suka dengan sungguh-sungguh, kita akan mendapatkan lebih dari apa yang kita inginkan. Murakami mendapatkan kebugaran, daya tahan tubuh, sekaligus ide-ide novel baru dan teman-teman baru dari berlari maraton.

Kelak saya ingin seperti dirinya: fokus berkarya dan berolahraga saja. Panjang umur, sehat, dan mendunia! Setidaknya buku ini memberi saya semangat itu. Terima kasih, Murakami!

Comments