Berani Bermimpi Saja Tidak Cukup



Apa yang kamu tahu tentang gedung World Trade Center di New York? Mungkin hanya tentang penyerangan 9/11 yang terjadi tahun 2001 dan seluruh dunia tahu itu. Tapi ada satu lagi fakta tentang WTC: ada seorang berkebangsaan Prancis yang pernah menyeberang kedua menaranya, tanpa pengaman, dan ilegal! Itulah yang diceritakan dalam film The Walk.




Baik, melenceng sebentar. Saya menemukan film ini karena sedang mengagumi akting Joseph Gordon-Levitt di film Snowden (masih tayang di bioskop saat postingan ini ditulis). Dan saya memang menyadari ini belakangan bahwa saya sering ketinggalan dalam banyak hal termasuk mengetahui track record para aktor Hollywood (Josep Gordon-Levitt main di film 500 Days of Summer yang terkenal itu, by the way!). Nah, dari penelusuran itu saya menemukan film The Walk.

Sebagaimana film-film Hollywood, secara teknis, film ini memukau mata saya dan berulang kali saya mengatakan: ya, efeknya bagus. Hollywood ya memang begitu. Namanya juga film. Tapi setelah menonton filmnya, saya penasaran, ini kisah fiksi atau nyata. Bertanyalah saya pada mbah Google. Lalu saya betulan merinding menemukan foto-foto ini:


















Foto-foto itu adalah foto asli yang dimiliki pers saat kejadian berlangsung, 7 Agustus 1974. Saya bahan belum lahir! Lelaki di foto itu adalah Philippe Petit, lelaki kelahiran Prancis dan masih berkebangsaan Prancis saat melakukan kudeta itu (ya, ia menyebutnya kudeta, bukan atraksi). Saat melakukan kudeta itu, ia berusia 24 tahun! Dan seminggu kemudian ia merayakan ulang tahun ke-25. Waktu usia 24 tahun, kamu lagi ngapain? 

Kalau cuma foto, mungkin kau tak akan percaya. Bagaimana dengan video ini?




Oke, cukup memuji-muji filmnya, karena ketahuan, saya terlambat satu tahun menonton film ini. Dan terlambat bertahun-tahun mengenal Joseph Gordon-Levitt, serta terlambat berpuluh tahun mengenal Philippe Petit. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?

Yang ingin saya bahas dalam postingan ini adalah, bahwa ada impian manusia yang semustahil itu rupanya. Buat saya yang suka berada di rooftop (tapi takut ketinggian) ini, berjalan di atas tali di antara dua gedung pencakar langit adalah hal yang berbahaya dan MUSTAHIL! Tapi untuk Philippe Petit, itu adalah hal yang menantangnya.

Semua orang boleh bilang Philippe Petit orang gila, nekat, tapi saya ingin bilang, Philippe Petit adalah ORANG PALING RASIONAL YANG SAYA TAHU.



Ada kata-kata bijak: jika impianmu tidak membuat orang lain takut, maka impianmu tidak sebesar itu!

Ya, impian Philippe memang menakutkan (dalam arti yang sebenarnya), tetapi ia bisa mewujudkannya. Intinya, dia bukan pembual. Sebab bermimpi saja tidak cukup. Sekarang bayangkan begini: jika Philippe Petit tidak pernah menyeberangi WTC di New York tetapi sepanjang hidupnya dia terus berkoar-koar bahwa ia ingin menyeberangi WTC dan tidak berusaha untuk itu, kira-kira bagaimana pendapat orang tentangnya? Bullshit, man! Go fuck yourself!

Tapi Philippe Petit, dengan segala daya upayanya, mengusahakan agar impian itu terwujud. Ia merencanakan dengan matang sejak masih berada di Prancis. Ia berguru pada high-wire artist di Prancis. Ia mencari dukungan, ia membentuk tim, ia memperhitungkan segala hal (kekuatan tali, keseimbangan tubuh, cara memasang tali dari ujung gedung Utara ke ujung gedung Selatan, bagaimana menyusup ke dalam gedung, bahkan tanggal dan jamnya pun ia perhitungkan). Menjelang kudeta, penonton akan tahu bagaimana sulitnya Philippe menyelundupkan berbagai perlengkapan kudetanya ke lantai 110 WTC. Begadang di rooftop untuk memasang tali dari gedung Utara ke gedung Selatan, agar tepat saat matahari terbit, ia bisa berjalan menyeberangi menara kembar WTC.


Film ini, dan tentu saja Philippe Petit, bukan hanya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa berani bermimpi itu hak setiap orang, tetapi mewujudkannya adalah sebuah tanggung jawab. Sebab penyair Rendra pernah berkata dalam sajaknya: perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Kalau kamu punya mimpi, tanyakan pada dirimu:

1. Apa yang sudah saya lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?
2. Berapa lama lagi saya harus melakukannya sampai terwujud?
3. Apakah langkah saya sudah tepat? Apakah persiapan saya matang?
4. Bagaimana kalau saya gagal? adakah mimpi lain yang bisa saya wujudkan untuk menggantikannya?

Kamu mimpi punya rumah seharga Rp 25 miliar di usia 30 tahun? sudah pernah baca tulisan ini? http://moola.id/post/mimpi-punya-rumah-25-miliar-begini-caranya-punya-rumah-seharga

Kalau belum dan masih keukeuh ingin punya rumah tapi malas berpikir cara mewujudkannya, ya silakan ngemeng saja terus sampai rumahmu diborong teman-temanmu yang diam-diam mencicil rumah. Mereka tidak koar-koar tapi tiba-tiba punya.

Ini berlaku pada semua orang dengan semua mimpi yang kalian punya, terutama saya sendiri tentu saja. 

Jadi, kembali lagi, berani bermimpi saja tidak cukup! Kalau berkoar-koar sih semua orang juga bisa, tapi mewujudkan apa yang kita katakan, hanya segelintir orang yang bisa, salah satunya ya Philippe Petit ini. Jadi kamu mau jadi seperti Philippe Petit atau... seperti calon pejabat yang bermimpi mensejahterakan rakyat tetapi cuma bisa koar-koar. Bla bla bla bla bla bla ... mimpi saja terus, enggak bangun-bangun.

Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz


Comments