Film Tentang Perempuan


Memperingati hari perempuan internasional 8 Maret, kali ini saya akan merekomendasikan film-film tentang perempuan. Ada lebih banyak film tentang perempuan di luar daftar ini, tetapi yang saya sebutkan di sini adalah yang saya tonton dan favoritkan. Urutan berdasarkan yang paling saya sukai ya :)



KISAH FIKSI


1. Memoirs of A Geisha (2005)




Meskipun saya lebih suka novelnya daripada filmnya, tapi film ini masuk daftar salah satu film favorit saya. Hidup Sayuri ini dari kecil sudah mengiris-iris hati. Dijual oleh ayahnya ke rumah Geisha, lalu harus mendapat perlakuan kasar dalam masa pertumbuhan. Masa remajanya didedikasikan untuk belajar menjadi Geisha. Di tengah getirnya kehidupan Sayuri, ia memiliki impian untuk dicintai lelaki yang ia kagumi dan kelak menghabiskan masa tua bersamanya. Harapan, bagaimana pun, memang selalu dapat menyelamatkan kehidupan.

Adegan favorit:
- Waktu Sayuri pertama kali masuk rumah Geisha dan matanya ditatap oleh pemilik rumah. Sayuri menatap lantang, menunjukkan matanya yang biru.
- Waktu Sayuri diuji apakah ia siap jadi Geisha. Ia harus bisa membuat lelaki menabrak sesuatu hanya karena menatap matanya di jalanan. Sayuri berhasil!
- Saat Sayuri jatuh cinta kepada seorang lelaki yang membelikannya es krim. Lelaki itu yang membuat Sayuri punya tujuan hidup, setelah melalui perjalanan hidup yang membuatnya nyaris ingin mati saja. 

Novelnya sudah sangat detail menceritakan tentang apa itu Geisha dan bagaimana kerasnya pendidikan dan persaingan menjadi Geisha. Sedangkan filmnya lebih fokus kepada sosok Sayuri dan bagaimana ia bertahan hidup sebagai calon Geisha hingga menjadi Geisha termahal. Saya salut sama akting Michelle Yeoh sebagai Geisha senior yang mensponsori Sayuri. Menyatu betul. 

2. W.E. (2011)



Film ini sebetulnya perpaduan kisah nyata dengan fiksi. Kisah fiksinya adalah tentang seorang perempuan di zaman sekarang (Wally Winthrop), yang mengidolakan kisah cinta antara Raja Edward VIII (UK) dengan janda bernama Wallis Simpson (US) yang sudah menikah tiga kali. Kisah cinta bersejarah yang membuat Raja Edward menyerahkan tahta karena memperjuangkan cintanya pada Wallis ini membuat Wally berkhayal mengalami kisah fairy tale yang sama. Namun pada kenyataannya, Wally malah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia berkali-kali datang ke museum sekadar ingin merasakan kekuatan cinta Edward dan Wallis yang tak bisa ia rasakan dalam kehidupan nyata. 

Adegan film ini berpindah-pindah dari kehidupan saat ini tentang Wally dan fragmen sejarah tentang kisah cinta Edward dan Wallis. Wally, yang merasa memiliki nama yang mirip dengan Wallis, selalu berusaha mencari kesamaan dirinya dengan Wallis. Ia mencari kekuatan dari sosok Wallis yang ia puja. Ia mempelajari bagaimana Wallis bisa bebas dari KDRT dari mantan-mantan suaminya dan mencari kebahagiaannya sendiri, berhasil membuat seorang raja jatuh cinta hingga rela menyerahkan tahta demi cinta.

Film ini ditulis dan diproduseri oleh Madonna. Enggak aneh, kan, ceritanya begini? hehe.

3. Elle (2016)



Kata teman saya Rio Johan, orang Prancis itu datar-datar saja. Kalau bilang j'taime pun biasa-biasa saja, tidak lebay seperti orang Indonesia atau yang ada di film-film Hollywood. Tapi Michele Leblanc yang diperankan Isabelle Huppert ini sih kelewat datar. Bayangkan, habis diperkosa, bisa beres-beres rumah dan langsung menerima tamu seolah tidak terjadi apa-apa. Tokoh Michele ini ekspresinya datar dalam menyikapi apa pun: ayahnya membunuh banyak orang, ibunya kawin lagi sama pemuda tanggung, mantan suaminya menikah lagi tapi masih demanding sama dia, anak lelakinya juga sama kayak bapaknya enggak mandiri. Sebagai pemimpin perusahaan game developer, ia harus menghadapi karyawan-karyawan laki-laki yang kadang menentang ide-idenya. Michele juga harus berjuang menghadapi ulah karyawan yang meng-hack salah satu game dan mengubah wajah di dalam game dengan wajah Michele. Kalau saya jadi Michele rasanya ingin bunuh diri saja. Tapi justru pergulatan batin Michele itu yang menjadi roh dari film ini. Dengan wajah datarnya, saya sebagai penonton disuguhi thriller psikologi yang justru lebih mencekam, karena tidak tampak di luar, tetapi lebih smooth dari dalam. Memahami rasa sakit Michele tanpa dipaksa menonton adegan menangis-nangis adalah pengalaman menonton yang tidak biasa tapi memberi efek yang dalam. Betapa perempuan ini terlalu kuat, sampai ending filmnya pun ia masih bisa tertawa-tawa.

4. Malena 



Ini film terbaik Monica Bellucci menurut saya. Ia berperan sebagai Malena, perempuan yang digilai banyak lelaki karena postur tubuhnya. Setelah suaminya dianggap mati dalam perang, Malena mulai kekurangan uang untuk kehidupan sehari-hari. Dalam masa berdukanya ia malah semakin sering digoda lelaki. Putus asa, Malena memotong pendek rambutnya dan menjadi penghibur bagi para tentara. Tapi ada seorang bocah lelaki yang diam-diam mengintip kehidupan Malena, dan hanya ia yang tahu bahwa Malena tidak sebejat yang ada di pikiran para lelaki (dan perempuan di sekitarnya). Ia terpaksa melakukan itu semua demi bertahan hidup. Saat suami Malena akhirnya kembali, bocah lelaki itulah yang mempersatukan kembali Malena dan suaminya sehingga nama Malena bisa kembali bersih. 

Film ini mengangkat fenomena cat call yang sering dialami perempuan, prostitusi yang merugikan perempuan, juga anggapan bahwa janda bisa "dipakai". Tak ketinggalan, bagaimana persaingan antar perempuan bisa menciptakan permusuhan yang berujung pada fitnah hingga pengeroyokan yang bisa berakibat pembunuhan.




KISAH NYATA

1. Veronica Guerin (2003)





Saya menonton film ini saat masih kuliah jurnalistik dan sedang merawat impian menjadi news anchor. Melihat sosok Veronica Guerin, saat itu saya semakin yakin bahwa ini bidang yang saya cintai. Saya ingin jadi jurnalis yang serius.

Film ini bercerita tentang Veronica Guerin, reporter kriminal Irlandia yang melakukan investigasi peredaran narkoba. Dalam tugas jurnalistiknya itu ia dibunuh oleh gembong narkoba namun kematiannya tidak sia-sia. Si gembong akhirnya tertangkap dan kasus ini mengubah hukum Irlandia tentang peredaran narkoba.

Cate Blanchett memerankan Veronica Guerin dengan sangat baik, termasuk menguasai aksen Irish yang khas. Gaya tomboinya greget banget!





2. The Lady (2011)



Ada kritikus yang mengatakan film ini berat sebelah karena terlalu mengekspos kehidupan pribadi Aung San Suu Kyi daripada perjuangan politiknya. Saya tidak berpikiran begitu. Menurut saya film ini menggambarkan sosok Aung San Suu Kyi dengan seimbang. Bagaimana ia sangat dicintai rakyat Myanmar (waktu itu Burma), bagaimana ia harus merelakan anak-anak dan suaminya kembali ke Inggris karena visa mereka dicabut, bagaimana ia harus melawan militer Myanmar sendirian, semuanya diceritakan lengkap di film ini. Adegan ia menjadi tahanan rumah bertahun-tahun dan dijaga ketat tentara sungguh menyebalkan! Membuat saya yang anak tentara pun jadi benci sama tentara.

Saya salut dengan Michael Aris, suami Aung San Suu Kyi, yang merelakan istrinya tetap berada di Myamnar untuk mengurus negara sedangkan ia dan anak-anaknya terpisah jauh di Inggris. Ia tidak seperti suami pada umumnya yang menuntut istri berada di rumah dan mengurus anak-anak. Michael mengurus dua anak laki-laki mereka sendiri, sambil membantu Aung San Suu Kyi melalui jalur diplomasi. Michael lah yang mendaftarkan Aung San Suu Kyi sebagai penerima nobel perdamaian dengan tujuan agar kasusnya mendapat sorotan dunia. Aung San Suu Kyi bahkan tidak mendampingi saat Michael menghembuskan napas terakhir. Michael diperankan dengan baik oleh David Thewlis.

Dengan sanggul dan poninya yang khas, Michelle Yeoh dapat menjadi Aung San Suu Kyi yang keibuan, lembut, sekaligus tegas dan berwibawa. 

3. Jackie (2016)




Banyak yang memuji akting Natalie Portman dalam film ini, termasuk saya, karena pedihnya dapet banget! Apalagi adegan saat suaminya ditembak dan Jackie memunguti serpihan-serpihan kepala yang berceceran, dan memangku suaminya dalam perjalanan. Dan yang paling terasa pedih adalah saat Jackie melepas pink suite Chanel yang jadi baju bersejarah itu, plus stockingnya yang bernoda darah. Tapi adegan-adegan mencekam itu bisa dinetralisir dengan adegan saat exclusive interview yang deep namun witty. Wartawannya cerdas banget saya akui!

Film ini menceritakan First Lady of USA yang berjuang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada suaminya, John F. Kennedy. Dalam keadaan nyaris bunuh diri karena depresi, Jackie harus tetap kuat untuk mempersiapkan pemakaman dengan segala keribetan protokoler dan isu keamanan yang selalu dibisikkan secret service. Jika selama ini banyak film fokus pada sosok kepala negara laki-laki dengan segala kisah heroik yang menunjukkan kegagahannya, film ini mampu mengangkat sosok first lady, justru di saat-saat paling terpuruknya.


4. Erin Brockovich (2000)





Bayangkan seorang yang tidak punya pendidikan formal hukum tetapi bekerja di firma hukum. Ya, ia adalah Erin Brockovich. Seorang single parent yang mengalami kecelakaan mobil dan kehilangan pekerjaan. Ia menyewa pengacara untuk menuntut si penabrak mobilnya namun ia kalah di pengadilan. Putus asa karena tak kunjung dapat pekerjaan, ia malah nekat melamar pekerjaan di firma hukum pengacaranya sendiri. Awalnya Erin hanya menjadi petugas yang merapikan arsip, sampai ia menemukan ada laporan warga tentang penyakit kanker di dalam arsip perusahaan real estate. Erin yang penasaran, melakukan investigasi sendiri. Awalnya investigasi ini membuat bosnya marah. Namun Erin terus berusaha mendapatkan dukungan warga, mengumpulkan ratusan tanda tangan agar warga mau menggugat. Kasus yang dipegang Erin adalah gugatan terbesar yang berlangsung dalam sejarah Amerika Serikat.

Kalau lihat kasusnya, film ini bisa jadi membosankan karena kasusnya sangat serius. Tapi penampilan Julia Roberts memerankan perempuan yang punya kuasa penuh atas tubuhnya dan bebas memilih busana apa yang ia kenakan, termasuk ke kantor hukum yang serba formal dan tertutup itu, membuat film ini jadi lebih segar. Selipan humor dalam film ini juga memberi jeda yang membantu. Terlebih kisah cinta Erin dan si gondrong pengendara Harley yang ternyata sangat baik hati dan mau merawat anak-anak Erin selama ia melakukan investigasi.

Meskipun Julia Roberts lebih terkenal dengan film Eat, Pray, Love, tapi saya memfavoritkan aktingnya justru di film ini.

5. The Iron Lady (2011)







Saya pernah menulis panjang soal film ini di blog ini, bisa dibaca di link http://rosezephirine.blogspot.co.id/2012/02/iron-lady-sosok-pemimpin-yang-tidak.html

6. Gett, The Trial of Viviane Amsalem (2014)



Film ini hanya berkutat di persidangan. Tapi tidak main-main, persidangannya berlangsung selama lima tahun. Viviane Amsalem adalah perempuan yang memperjuangkan haknya untuk bisa bercerai dari suami yang sudah 25 tahun dinikahinya. Tapi sistem hukum di Israel menyulitkan Viviane terutama karena suaminya tidak pernah mau menceraikan Viviane. Bahkan di saat-saat terakhir, saat hakim sudah memutuskan mereka bercerai dan suami Viviane harus mengucapkan cerai, suaminya masih bisa berubah pikiran. Mereka gagal lagi bercerai! Nonton film ini bikin emosi banget sama sistem hukum Israel yang menyulitkan perempuan mendapatkan kebebasannya ini. Apalagi pada akhirnya, suami Viviane mau menceraikannya asal Viviane mau menyerahkan tubuhnya untuk terakhir kali. Errgghhhh...

Ada review yang bagus soal film ini di New York Times:
https://www.nytimes.com/2015/02/13/movies/review-in-gett-the-trial-of-viviane-amsalem-a-woman-fights-for-her-freedom.html?_r=0

7. Frida (2002)




Film ini bercerita tentang kisah hidup Frida Kahlo, pelukis Meksiko yang terkenal karena lukisan self-portrait. Frida pernah mengalami kecelakaan bus yang menyebabkan ia nyaris cacat. Selama masa penyembuhan menggunakan penyangga di tubuh dan kakinya, Frida menghabiskan waktu dengan melukis. Sembuh dari efek samping kecelakaan, Frida jatuh cinta kepada seorang pelukis yang menjadi mentornya, Diego Rivera. Mereka menikah meskipun Frida sudah tahu sejak awal kalau Diego telah beristri. Dalam perjalanan pernikahan mereka, Diego beberapa kali selingkuh dan yang terakhir adalah dengan adik Frida sendiri. Kepahitan hidup Frida inilah yang akhirnya tertuang dalam karya-karya lukis Frida.

Salma Hayek memerankan Frida sebagai sosok yang periang meski memendam kekecewaan dalam hidupnya. Efek-efek visual dalam film ini sungguh menghibur di antara fragmen-fragmen hidup Frida yang getir. Apalagi di endingnya. Yah, nonton sendiri saja ya daripada spoiler.



-selamat menonton-

Comments