Kenapa Thailand? Kenapa Traveling Sendirian?



Sewaktu pertama kali mendarat di bandara Don Mueang, Bangkok, tiba-tiba senyum saya merekah. Lalu saya sibuk ambil ponsel dan mengabadikan semua di hadapan saya dengan ponsel. Hal pertama yang saya lakukan adalah berbagi kepada dunia, bahwa saya akhirnya ke luar negeri. Tapi setelah semua terposting, saya berdiri terpaku di pintu keluar bandara, memandangi suasana lalu lintas bandara yang sama sekali berbeda dengan Soekarno-Hatta. Warna taksinya berbeda, tulisan di bus bandaranya berbeda (tulisan Thailand yang tidak bisa saya baca itu). Bahkan ketika ingin bertanya tentang bus apa yang harus saya naiki pun bahasa saya berbeda. Dan ketika saya berhasil menaiki bus yang tepat menuju tujuan saya, baru di dalam bus bandara saya bisa berhenti memegang ponsel dan menikmati momen.

Saya benar-benar sendirian di kota ini. Di negara ini. Sejumlah kekhawatiran muncul lagi, tapi lalu hilang karena bibir saya tiba-tiba tersenyum lagi. Saya sudah di sini. Kenapa tidak dinikmati saja? Saya akan baik-baik saja!

Sepanjang perjalanan menuju stasiun BTS Mo Chit, saya mengingat kembali penantian panjang sampai akhirnya hari ini tiba. Saya membuat paspor ternyata tepat 2 tahun lalu, April 2017 (baru sadar setelah mengecek masa berlaku paspor untuk pesan tiket pesawat). Waktu itu saya bertekad punya paspor sebelum ulang tahun ke-31 dan akan mewujudkan traveling ke luar negeri. Saya berpikir, kepala 3 adalah saatnya saya pergi. Cita-cita saya untuk merantau di Jakarta dan hidup mandiri tanpa bergantung pada orang tua sudah terwujud sejak 2011. Saatnya saya pergi ke luar negeri untuk melihat tempat baru (dan mungkin saya akan menemukan peluang baru).

Tapi kenyataan berkata lain. Uang tabungan saya untuk traveling ke luar negeri harus dipakai untuk bertahan hidup karena kantor lama saya kolaps dan tidak bisa menggaji penuh karyawannya. Saya masih bisa bersyukur saat itu belum jadi berangkat. Kalau sudah jadi berangkat dan saya tidak punya tabungan, saya tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Apalagi ternyata keadaan bertambah buruk. Orang tua saya juga ditipu orang sehingga terjerat utang. Tahun 2017 adalah tahun ujian bagi saya. Saya juga pernah berbagi ceritanya di Instagram jadi saya tidak perlu menulisnya kembali di sini.

Saya terpaksa melupakan keinginan traveling ke luar negeri sampai akhirnya pindah kantor dan kondisi keluarga saya membaik. Setelah bekerja satu tahun lebih dan mulai bisa menabung, saya teringat kembali rencana traveling ke luar negeri yang pernah saya impikan. Saya lihat paspor yang masih kosong sejak 2 tahun dibuat. Awal 2019, saya memutuskan, saya harus traveling ke luar negeri di ulang tahun saya ke-33.

Tak disangka, akhir Januari saya bertemu seseorang yang menawarkan liburan ke Bali seminggu sebelum ulang tahun saya. Setelah mempertimbangkan cukup lama, akhirnya saya mengajukan cuti untuk liburan bersama dia di Bali. Saya pikir, masih ada kesempatan liburan ke luar negeri tahun ini. Jadi tidak harus pas di hari ulang tahun. Menunda sebentar, biar dapat dua-duanya. Hehe.

Di akhir Maret saya jatuh sakit. Satu minggu saya bed rest dengan puncaknya harus diinfus selama 3 jam di RSPP karena suhu tubuh saya mencapai lebih dari 40 derajat celcius. Selama sakit, saya merasa komunikasi dengan seseorang yang dekat dengan saya itu juga tidak cukup baik. Saya curiga. Dan saya bertanya kepadanya, ada apa? Setelah saya sembuh, dia akhirnya jujur bahwa dia terpaksa membatalkan rencana perjalanan kami ke Bali karena anaknya harus operasi (yaa, dia duda beranak satu).

Saat itu, saya yang baru saja sembuh dari sakit rasanya ingin terbaring lagi di rumah sakit dan diinfus berminggung-minggu. Saya kecewa, tentu saja. Bukan karena batal ke Bali, tapi karena rencana awal saya ke luar negeri sudah saya batalkan untuk trip kami. Saya sudah mengajukan cuti di hari yang sebelumnya tidak saya inginkan. Dia juga sudah beli tiket untuk kami berdua. Berhari-hari saya mencoba berdamai dengan kenyataan, sampai akhirnya saya memutuskan: baik, saya akan traveling sendirian. Saya tidak akan batalkan cuti saya. Meskipun pada saat itu saya tidak tahu akan ke mana dengan jatah cuti total 10 hari dengan weekend.

Tidak ada keinginan untuk ke Bali karena kami sudah membicarakan trip Bali selama berbulan-bulan dan menyusun itinerary bersama. Rasanya aneh kalau saya akhirnya malah ke sana sendirian. Akhirnya saya putuskan: sudah, ke luar negeri saja! Toh awalnya memang mau ke luar, kan?

Meski sudah bulat akan ke luar negeri, tetap saja masih belum memutuskan negara mana yang mau saya tuju. Pilihan pertama, Singapura. Karena saya buta sama sekali akan luar negeri, bagi saya traveling ke Singapura mudah karena paling dekat dengan Jakarta dan tiket pesawatnya paling murah. Tapi setelah nanya teman-teman, ada pilihan lain yaitu Thailand dan Vietnam. Karena Singapura itu hanya murah di tiket pesawat tapi biaya hidup di sana mahal. Lagipula tidak banyak yang bisa dikunjungi di Singapura. Kebanyakan hanya tempat-tempat mainstream untuk turis.




Saya coba googling tentang Thailand dan Vietnam. Saya juga ingat tentang aplikasi Klook yang digunakan seleb Ringgo Agus Rahman untuk traveling. Saya coba install aplikasi itu dan menemukan tur winery, yaitu ke kebun anggur melihat pembuatan wine. Percaya atau tidak, tur ini adalah alasan pertama saya memutuskan untuk mengunjungi Thailand. Saya penggemar berat wine, dan Thailand memiliki obyek wisata tentang wine! Padahal Thailand negara tropis. Tentu saja saya tertarik. Aneh ya, padahal Thailand terkenal dengan wisata temples-nya. Tapi itu alasan ke sekian untuk akhirnya saya memutuskan pergi ke Thailand.

Setelah itu saya mulai googling googling wisata apa lagi yang bisa saya kunjungi di Thailand. Semakin sering saya mencari, semakin banyak saya menemukan ulasan tentang Thailand. Apalagi banyak orang Indonesia yang sudah berlibur ke sana, jadi banyak blog yang sudah mengulas Thailand dengan sangat baik, dalam bahasa Indonesia. Saya belajar sistem transportasinya, saya cari tahu jarak dari satu tempat ke tempat lain kalau saya memutuskan mengunjungi.

Walau keinginan untuk berangkat ke Thailand mulai bulat, ada lagi godaan karena ada teman yang mengajak liburan ke Bali (lagi). Lalu masih juga ngintip-ngintip wisata di Singapura. Pokoknya awal April itu saya masih juga galau mau pergi ke mana. Sempat iseng juga ajak teman lain agar bisa memutuskan mau ke mana, Thailand atau Vietnam, tapi semuanya mentok. Saya memilih pergi sendiri saja. Dan pada akhirnya beli tiket ke Bangkok, hanya satu minggu sebelum keberangkatan!

Begitulah akhirnya. Saya duduk di kursi bus bandara, menuju stasiun BTS Mo Chit, untuk memulai petualangan saya di Thailand, 20 April 2019. Saya kembali dengan selamat di Jakarta, 27 April 2019, setelah transit di Singapura (setidaknya ada stempel visa Singapura juga di trip ini, hehe). Semuanya berjalan lancar dan sungguh tidak terduga, saya sangat menikmati perjalanan ini dan merasa keputusan ini sangat tepat.



Bahkan saya yang sudah berhenti menulis blog akhirnya punya keinginan menulis blog lagi. Saya akan menulis perjalanan ini dalam beberapa bagian. Karena rasa bahagianya masih bisa saya rasakan sampai sekarang :)

Comments