Itinerary 1 Minggu di Thailand (Bangkok)




Berapa lama di Thailand?
1 minggu.
Lama amat? Rencana ke mana aja?
Belum tahu.

Thailand memang bukan negara impian yang masuk dalam wishlist saya. Saat membeli tiket pesawat ke Bangkok pun saya masih belum yakin apakah saya akan menikmati perjalanan ini. Karena ini pertama kalinya ke luar negeri dan kalau perjalanan ini gagal mungkin saya akan berpikir ulang untuk traveling ke luar negeri. Seperti, apakah saya betul-betul butuh ke luar negeri? Tetapi ternyata perjalanan ini dengan tak terduga membuat saya bahagia, bahkan sampai seminggu setelah saya kembali ke Jakarta.

Nah, berikut itinerary dan pengalaman saya selama satu minggu di Thailand. Sengaja tidak menjelaskan detail per tempat karena penjelasan tentang tempat-tempat itu ada di mana-mana, sudah ditulis semua orang. Jadi saya nulis berdasarkan pengalaman saya saja.

Sabtu, 20 April 2019 - flight dan check in hotel
Saya berangkat dengan Thai Lion Air pukul 13.20 WIB dari Jakarta. Yep, penerbangan murah tanpa bagasi. Berdasarkan saran teman-teman, saya mengandalkan bagasi kabin yang jatahnya hanya 7 kg itu. Sejumlah penerbangan LCC seperti Lion Air dan Air Asia memang menerapkan free bagasi hanya untuk bagasi kabin dan dibatasi 2 pcs dengan total 7 kg. Sempat galau mau pakai backpack atau koper karena horor baca-baca kelebihan bagasi bakal kena charge cukup mahal di bandara. Menghabiskan satu hari sendiri untuk packing seminimalis mungkin agar semua terangkut tapi tidak kena charge. Ditambah soal peraturan benda cair yang boleh dibawa di bagasi penerbangan internasional maksimal 100 ml per pcs dengan total 1 liter per orang. Horor banget memang baca-baca hasil googling pengalaman orang-orang soal ini. Eh, ternyata begitu sampai bandara semuanya aman sentosa. Saya tiba dengan selamat di bandara Don Mueang, Bangkok tanpa berurusan soal bagasi kabin. Oh iya, koper saya cuma 5,8 kg ternyata, hehe. Tips berkemas ada di sini.


Sampai di bandara, saya naik bus bandara A1 menuju stasiun BTS Mo Chit (dan keesokan harinya saya baru tahu kalau mau ke Chatuchak turunnya juga di sini, hehe). Dari stasiun BTS Mo Chit saya beli tiket ke BTS Saphan Taksin (hostel saya dekat BTS ini). Transit satu kali di BTS Siam dan ganti ke Sukhumvit Line untuk menuju BTS Saphan Taksin. Perjalanan yang sangat mudah dari bandara menuju hostel ini membuat saya optimis bisa survive di Bangkok. Ini pertama kalinya saya tidak pakai taksi bandara atau Grab Gar dari bandara menuju pusat kota.


Minggu, 21 April 2019 - Chatuchak Weekend Market
Karena ini traveling luar negeri pertama, saya sengaja di hari pertama tanggal 20 April itu hanya untuk flight, makan malam dan adaptasi, juga istirahat di hostel. Tapi kalau teman-teman ingin trip singkat, jadwal flight dan hari pertama jalan-jalan bisa digabungkan. Jadi bisa cari flight pagi supaya bisa mulai jalan-jalan di siang atau sore hari.


Baru hari kedua saya mulai ke destinasi pertama, yaitu Chatuchak Weekend Market. Sengaja mendedikasikan hari pertama jalan-jalan untuk seharian berkeliling pasar ini. Dan seperti yang saya tulis di atas, ternyata menuju Chatuchak sangat mudah. Dari hostel, saya pergi dari BTS Saphan Taksin menuju BTS Mo Chit, transit hanya satu kali di BTS Siam. Jadi rutenya hanya backward dari rute semalam. Ini pun baru nyadar setelah di sana, haha.

Berdasarkan cerita teman-teman ditambah hasil googling, sesuai namanya, Chatuchak hanya buka di weekend. Kalau teman-teman doyan belanja sebaiknya sih ke Chatuchak hari Sabtu dan Minggu sekaligus. Saya saja yang datang jam 11 siang, sampai pasarnya tutup jam 6.30 malam masih kuat keliling pasar di bagian luar karena bagian dalam mulai tutup. Pasar ini wajib kunjung karena: harganya murah-murah banget, barangnya banyak yang unik-unik, dan kualitas barangnya walaupun murah tapi ga murahan. Contohnya baju dari kain tye dye ini yang hanya dijual seharga 350 Baht atau sekitar Rp155 ribu:



Harga segitu sudah yang paling mahal untuk baju di pasar ini. Untuk atasan-atasan yang bukan dari kain tye die harganya 100 Baht saja atau sekitar Rp44 ribu. Saya juga beli anting-anting. Rata-rata anting di Chatuchak harganya 100 Baht bisa dapat 4 pasang, tapi saya dapat yang bagus, yang harganya sepasangnya 160 Baht. Ini harga anting termahal yang saya lihat di pasar ini. Tapi ga apa-apa daripada nyesel balik ke Jakarta kepikiran terus ga bisa tidur :)



Selain belanja produk fashion, saya merasa bahagia banget menghabiskan hari di Chatuchak karena bisa makan siang dan makan malam sekaligus. Plus banyak penjual buah-buah dan jus segar. Jadi selama keliling-keliling ga akan kelaparan dan kehausan karena pasti ngunyah terus. Sewaktu saya datang cuaca lagi panas-panasnya sampai saya beli jus berkali-kali. Jangan lupa coba coconut ice cream yang terkenal di Chatuchak karena itu uenakkkk buangeeettt!!!!!

Pulang dari Chatuchak saya ga ke mana-mana lagi karena sudah kenyang dan sudah puas belanja. Kaki rasanya puegeelllll banget tapi hati happy. Jadi saya tidur lumayan nyenyak.

Tips: 

- Kalau nemu barang yang kamu suka, langsung beli karena tidak seperti di Jakarta, kamu bisa seenaknya balik lagi ke toko awal. Tidak semudah itu di Chatuchak. Kamu bisa get lost masuk dari pintu mana ke luar di pintu mana. Jadi daripada habis waktu -buat nyari barang yang kamu suka yang kamu pikir beli nanti saja- mending langsung beli saat nemu barangnya.


- Kalau kamu bisa bangun pagi mending datang dari pagi sekitar jam 8 gitu karena udara ga terlalu panas. Karena saya agak malas, saya tiba di sana jam 11 siang dan matahari lagi ganas-ganasnya di Chatuchak. Bukannya sibuk belanja saya malah sibuk lap keringat dan cari minum terus. Agak ga nyaman sampai jam 2 siang tapi setelah itu lancar aja sih.


- Kamu juga bisa jadikan Chatuchak sebagai destinasi terakhir liburan kalau takut uang habis sebelum liburan dimulai hehe. Saya juga agak nyesel kenapa Chatuchak tidak di hari terakhir saja supaya ga was was karena takut kehabisan uang di hari pertama jalan-jalan. Jadi harusnya saya datang hari Senin dan pulang hari Minggu, ya, hmm...



Senin, 22 April - Mengunjungi 3 Temples dan Asiatique
Sejujurnya saat berangkat dari Jakarta, saya belum punya itinerary untuk hari ini. Itinerary saya baru terisi untuk hari Minggu (Chatuchak), Selasa (Winery Tour), Rabu (Madame Tussauds). Saya sempat ingin ikut satu hari ke floating market yang jauh dari Bangkok. Tapi saya memutuskan pergi ke 3 temples justru setelah saya kecapekan belanja di Chatuchak dan berpikir, sudah lah jalan-jalan di Bangkok saja. Dan lagi-lagi keputusan dadakan ini malah yang paling saya favoritkan. Karena apa?
Karena saya mengunjungi 4 tempat melalui sungai Chao Phraya dalam satu hari. Transportasi yang tidak terpikirkan sama sekali. Karena meskipun sudah baca-baca bahwa di Thailand terkenal dengan transportasi sungainya, di Jakarta saya lebih berpikir sesuatu yang praktis yaitu naik Grab. Kalau sudah di Bangkok mah ketawa sendiri deh ingat rencana itu. Karena naik BTS dan naik boat ke mana-mana itu lebih mudah (dan murah) ketimbang naik grab. Dan, menyusuri sungai Chao Phraya itu sungguh-sungguh menyenangkan!!!!

Hostel saya itu ajaib memang lokasinya. Super strategis! Selain cuma jalan kaki ke BTS Saphan Taksin, juga cuma jalan kaki ke Sathon Pier, dermaga yang menghubungkan kita ke temples-temples terkenal di Thailand dan Asiatique. Tinggal bilang ke petugas kita mau ke mana, lalu bayar dan dapat karcis. Nanti ada petugas yang akan memberi petunjuk kita harus naik kapal yang mana.

Grand Palace (Wat Phra Kaew) dan Wat Pho (yang ada reclining Buddha-nya) berada di satu lokasi yang berdekatan. Jadi setelah kamu turun dari perahu, jalan sedikit sekitar 500 meter langsung ketemu lokasi Grand Palace. Harga tiket masuk Grand Palace 500 Baht dan Wat Pho 200 Baht. Kalau Wat Arun berada di seberang jadi setelah mengunjungi dua tempat ini kamu perlu naik perahu lagi untuk menuju Wat Arun. Karena lagi-lagi saya bangun kesiangan dan baru sampai Grand Palace di tengah hari, matahari sedang kejam-kejamnya bersinar dan membakar kulit sampai saya hampir pingsan karena kehausan dan kepanasan.

Tips:

- Kalau kamu tipe morning person, sebaiknya berangkat dari pagi supaya tidak terbakar matahari saat berada di dalam lokasi kuil-kuil. Karena jujur saja, puanassss banget!!!!


- Gunakan baju yang sopan dan sebaiknya pakai sepatu karena perjalananmu panjang, mengunjungi 4 tempat dalam sehari. Untuk baju, banyak bule yang persiapan bawa baju luaran dan dipakai saat mau masuk ke kuil. Kalau saya sih dari awal saja lah pakai baju sopan biar ga repot ganti-ganti. Saya sengaja pilih kaos super tipis dengan luaran overall dress yang meskipun tidak panjang tapi ternyata aman masuk Grand Palace

- Bawa botol minum sendiri. Kalau kamu pecinta bumi dan tidak merasa repot bawa botol minum sendiri, traveling di Thailand itu surgamu. Di bandara, di kuil-kuil, tersedia keran air minum yang bisa kamu gunakan untuk mengisi botolmu. Saya sudah baca soal ini sebelumnya tapi anaknya ga suka repot dan mengandalkan tukang jualan minum (berharap Thailand kayak Indonesia yang banyak penjual minum di tempat wisata), saya nyaris pingsan karena dehidrasi. Terpaksa ke luar dari Grand Palace nyari minum dan langsung meneggak sebotol ai 600 ml tanpa napas. 


- Kalau kamu datang lebih pagi, waktumu akan lebih leluasa untuk mengunjungi 3 kuil ini. Grand Palace tutup sekitar jam 3 sore, Wat Pho jam 6 kalau tidak salah. Wat Arun juga jam 6. Kesalahan saya karena terlambat mulai adalah saya tiba di Wat Arun jam 5.30 sore. Loket tiket sudah tutup dan saya diperbolehkan masuk tanpa beli tiket, tapi.... cuma punya waktu 10 menit buat foto-foto. Setelah itu saya diusir-usir security haha. Bodohnya lagi, saya ke luar begitu saja langsung antri untuk naik boat ke Asiatique karena berpikir sudah cukup puas. Padahal.... seharusnya saya menunggu sampai sunset dan memotret Wat Arun dari luar saat sunset. Biasanya Wat Arun cantik banget saat sunset.

Akhirnya tibalah saya di Asiatique. Tempat ini adalah pasar malam versi turis jadi segalanya mahal. Untuk yang sudah belanja-belanja cantik di Chatuchak pasti sakit hati saat tiba di sini (atau hanya saya saja?). Harga barang-barang yang dijual mahal-mahal banget tapi waktu saya pegang bahannya sih memang bagus ya. Kalau mau coba beli satu-dua barang enggak apa-apa juga sih.





Asiatique juga bagus buat keluarga karena ada beberapa wahana yang bisa dimainkan anak-anak. Makanan di sini juga enak-enak. Cuma ya itu, ga ada yang murah, haha. Tapi puas kok menghabiskan malam di sini setelah seharian menjelajah Chao Phraya dan mengunjungi 3 kuil. Jadi dalam satu hari saya (atau kamu nanti) sudah dapat 4 tempat sekaligus. Kalau datang bareng teman-teman (atau fotografer) pasti kamu puas banget karena sudah dapat banyak foto Instagram-able buanyak banget hanya dalam satu hari. Saya saja yang jalan sendiri dapat banyak stok foto kok, hehe.



Selasa, 23 April - Winery Tour
Seperti yang sudah saya tulis di postingan blog sebelumnya, tur ini adalah alasan saya memilih Thailand untuk liburan kali ini. Tur ini juga satu-satunya tur yang saya ikuti di Thailand, dari sekian banyak tur yang ditawarkan aplikasi Klook. Karena ternyata tempat-tempat lain bisa saya jelajahi sendiri sedangkan untuk tur ini, lokasinya ratusan kilometer dari Bangkok. Setelah saya hitung-hitung, biaya sewa mobil jauh lebih mahal. Jadi saya memilih ikut tur dari Klook ini. Dan ternyata, tur ini yang paling tidak saya sukai.

Meeting point ternyata di Siam Paragon, turun di BTS Siam. Setelah berhari-hari di Bangkok baru sadar kalau BTS ini paling sering saya lewati untuk transit. Jadi mudah banget sesungguhnya menuju meeting point kali ini. Perjalanan PP Bangkok-Khao Yai-Bangkok memakan waktu 6 jam, tetapi tur wine-nya hanya 30 menit. Bagaimana tidak jengkel? Tapi ini bukan salah pihak travelnya sih, justru pihak PB Valley-nya yang memang hanya memberi tur 30 menit :( foto di kebun anggur hanya 10 menit :( selebihnya berada di tempat pengolahan wine yang sesungguhnya ternyata tidak terlalu menarik. Ternyata saya lebih tertarik minum wine daripada dengar penjelasan cara buatnya. Atau karena waktunya yang terlalu singkat ya jadi tidak menarik :( untung masih dapat foto bagus.




Tapi kekecewaan saya juga terbayar karena kami diberi kesempatan wine testing 4 jenis wine berbeda yang mereka produksi: White, Rose, dan 2 Red Wine dari jenis berbeda. Saya juga beli Rose Wine pada akhirnya dan selamat sampai di Jakarta. Sempat deg-degan karena ini pertama kali bawa Wine dari luar negeri. Ternyata ga ada masalah sama sekali. Trip saya ini memang dimudahkan segala-galanya.


Setelah selesai tur, sebenarnya saya berniat ke Khaosan Road, lanjut minum bir atau cocktail (kalau ada) di sana. Jadi hari ini didedikasikan untuk minuman beralkohol. Setelah hari pertama untuk belanja, hari kedua menyusuri Chao Phraya dan 3 temples, eh karena kami diturunkan di Siam Paragon, saya malah jalan-jalan di mall ini. Geli juga menemukan produk-produk Indonesia yang dijual di supermarket di Bangkok seperti Sunsilk, Citra, dan Indomie! Kemasannya berbahasa Thailand dan jenis produknya juga tidak sama seperti di Indonesia. Jadilah keasikan keliling-keliling sampai mall-nya tutup. TUMAN. Nyesel sih ga nyobain beli Citra yang jenisnya macam-macam ini:





Rabu, 24 April - Madame Tussauds & Khaosan Road
Sebenarnya rencana awal tidak hanya Madame Tussauds tapi juga mau nonton Calypso Cabaret Show, show paling terkenal di Bangkok yang penampilnya adalah LadyBoy. Sayang banget memang ke Thailand ga nonton show ini. Tapi karena badan sudah mulai kelelahan (umur memang cuma angka, tapi kondisi fisik ga bohong sih kalau usia kelapa 3 mulai gampang capek hahaha). Akhirnya saya memilih ke Madame Tussauds saja dan pulangnya ke Khaosan Road yang belum sempat dikunjungi kemarin. Daaaan, eng ing eng... lokasi Madame Tussauds ternyata di Siam Discovery, di dalam mall Siam Paragon. Bhaiq. Jadi keseharian saya di Bangkok memang tidak terlepas dari BTS Siam. Lagi-lagi saya harus ke BTS Siam, jalan ke mall Siam Paragon dan mencari Siam Discovery. Lokasi Madame Tussauds memang agak susah ditemukan, saya sampai sempat mampir makan siang dulu karena kesasar di food court (padahal memang lapar).




Kalau ada yang nanya, ngapain sih ke Madame Tussauds? Ngapain foto sama patung? Eh tunggu dulu. Setelah ke sana, saya baru tahu gunanya mengunjungi Madame Tussauds. Patung-patung lilin di sini bukan sembarang patung. Ukurannya dibuat sama persis dengan tokohnya. Bahkan sampai lubang hidung, warna kulit, dan bulu-bulu di rambut pun sebisa mungkin dibuat mirip. Saya paling takjub sama patung lilin Lady Diana di sini. Sebagai fans berat dari kecil dan ga akan punya kesempatan bertemu karena orangnya sudah meninggal, saya jadi tahu kalau Lady Diana itu ternyata tinggi banget, ya dari patung lilinnya. Kamu bisa bayangin tokoh-tokoh itu dari patung lilinnya. Di Madame Tussauds Bangkok kamu bisa ketemu patung lilin aktor-aktris Hollywood, presenter Oprah Winfrey, para pemimpin dunia yang menang nobel, dan atlet-atlet dunia seperti David Beckham.

Pulang dari Madame Tussauds saya melanjutkan petualangan ke Khaosan Road. Ini pertama kalinya saya pakai Grab Bike selama di Bangkok. Akhirnya! Khaosan Road memang tidak dilalui BTS atau MRT jadi kalau kamu terbiasa naik Grab bisa coba Grab Bike karena Grab di Thailand sudah bekerja sama dengan WIN (semacam taksi motor di Thailand). Ada pier yang dekat dengan Khaosan Road tapi tutup jam 8.30 malam. Jadi kalau kamu dari temples-temples lebih memilih ke Khaosan Road ketimbang Asiatique juga bisa. Cuma pulangnya ga bisa naik boat lagi. Saya pulang dari Khaosan Road ke hostel juga naik Grab Bike.

Saya cuma sebentar keliling Khaosan Road karena penasaran saja seperti apa sih jalanan yang katanya jadi favorit para backpacker ini. Situasinya sih mirip Chatucak hanya ditambah ada banyak bar dan tempat pijat Thailand. Kalau kamu punya banyak energi, menghabiskan malam di sini sebenarnya menyenangkan. Tapi saya sudah kehabisan energi, jadi saya meninggalkan Khaosan Road jam 10 malam.



Kamis, 25 April - Stay Cation
Ini juga tidak direncanakan sebelumnya. Jadi sebelumnya saya sudah memesan kamar hotel untuk 1 minggu yang totalnya lumayan mahal (tanpa tahu lokasinya tidak strategis dan not worth for money). Setelah mendapat rekomendasi hostel nyaman dengan lokasi super strategis dan harga super murah, saya akhirnya menginap 5 malam di Bangkok dengan penghematan luar biasa. Saya pikir, tidak ada salahnya saya habiskan sisa uangnya untuk Stay Cation di hotel mewah 1 malam, di malam terakhir. Pilihan pun jatuh kepada Royal Suite Bangkok.

Ini keputusan yang akhirnya saya sesali dan tidak. Setengah menyesal dan setengah tidak, haha. Kalau dari fasilitas hotel ini lumayan oke. Saya sudah coba berenang di kolam rooftop-nya yang memiliki pemandangan cantik dan kamar mandi pribadinya ternyata memiliki bathub. Dua-duanya sudah saya coba dan menyenangkan. Relax banget memang setelah hampir seminggu jalan terus mengeksplorasi Bangkok dan malamnya tidur di kamar hostel tanpa privacy, akhirnya bisa menginap di hotel berbintang juga. Kamarku juga ada balkonnya untuk merokok. Pemandangannya juga asik banget ke lalu lintas Bangkok. Suasana di lantaiku juga tenang banget, tidak terdengar suara dari kamar lain (apa karena ga ada tamu sama sekali? haha).

Kurangnya hotel ini adalah benar-benar jauh dari mana-mana. Jadi hanya direkomendasikan untuk stay cation di hari terakhir trip. Kecuali kamu memang mau ke mana-mana pakai taksi atau Grab Car dan tidak masalah dengan uang. Lighting di kamar juga remang-remang banget. Saya agak kurang sreg dengan lighting kamar hotel yang terlalu gelap. Cahaya kamar hotel memang kadang dibikin redup agar kita nyaman istirahat, tapi kamar di hotel ini cenderung ke gelap sih bukan redup. Jadi malah ga nyaman. Dan satu lagi, channel tv-nya cuma berbahasa Thailand :(

Kalau kamu tidak punya banyak waktu untuk mengunjungi Thailand, stay cation ini dicoret saja dari itinerary-mu. Apalagi kalau kamu memang tidak suka-suka amat dengan stay cation.




Jumat, 26 April - Chek Out & Flight
Akhirnya trip berakhir dan harus kembali ke Jakarta. Masih bisa menikmati trip karena transit di Singapura. Saya pulang dengan pesawat Jet Star dan sebelumnya sudah memesan bagasi 20 kg (yang ternyata lebay karena koper saya ga nyampe 10 kg, okesip). Karena pakai Jet Star, saya pun berangkat dari Bandara Suvarnabhumi. Jadi, dalam satu kali trip saya sudah coba 2 bandara sekaligus: berangkat Don Mueang, dan pulang Suvarnabhumi. Ini mungkin ga penting buat sebagian orang tapi buat saya penting. Saya jadi tahu bedanya kedua bandara ini, termasuk perbedaan kelas haha. Pesawat-pesawat LCC semuanya ditempatkan di Don Mueang. Pantas tiket pulang saya mahal bingits.

Tapi kesalahan fatal saya bukan itu. Saya memilih jadwal flight yang terlalu malam sehingga sampai di Singapura jam 1 pagi. Tadinya supaya saya masih punya banyak waktu untuk menikmati Bangkok. Tapi malah tidak punya kesempatan mengeksplorasi Changi Airport. Kali ini saya salah perhitungan.

Niat melihat Jewel di Changi pupus. Bahkan niat melihat sunrise juga pupus karena Singapura kebetulan hujan hari itu, berbeda dengan Bangkok yang tidak hujan-hujan selama saya di sana. Jadi, kesimpulannya saya hanya kelayapan tengah malam di Singapura sambil kelaparan, kedinginan, dan ngantuk berat. Badan sudah tidak dalam kondisi siap mengeksplorasi apa pun.

Lain kali kalau memang niat jalan-jalan dengan memanfaatkan waktu transit di Singapura, saya akan merencanakan dengan lebih baik. Kalau enggak begini, ga akan belajar, kan?



Demikian pengalaman saya satu minggu di Thailand. Maksimal jalan-jalan sebenarnya hanya 4 hari full, itu pun sebenarnya masih bisa dipadatkan lagi di malam harinya. Saya hampir tidak punya agenda di malam hari dan hanya mengikuti mood hari itu saja. Jadi, buat kamu yang tidak punya banyak waktu mengunjungi Thailand bisa bikin itenerary yang lebih padat dari punya saya, dengan skip hari pertama (flight, adaptasi) dan hari terakhir (stay cation).

Oh iya, saya juga menulis tips berkunjung ke Thailand (atau solo traveling ke luar negeri buat yang belum pernah ke luar negeri. Klik link ini ya....


Selamat berlibur!


Comments