Tips Solo Traveling Ke Bangkok - Thailand (Terutama yang Belum Pernah Ke Luar Negeri)




Sejujurnya ini solo traveling pertama saya ke luar negeri. Jadi tips yang saya tulis juga bisa jadi tips untuk yang baru akan ke luar negeri pertama kali seperti saya. Saya bukan traveler aktif, meski hobi saya traveling tapi yang namanya hobi ya saya jalani suka-suka saya. Seringnya sih tergantung ada duitnya atau tidak :) jadi, apa yang saya tulis ini hanya berdasarkan pengalaman ya. Sharing pengalaman, bukan menggurui. Silakan tinggalkan komentar jika ingin meralat atau menambahkan :)



Persiapan (berbulan-bulan sebelumnya)


Paspor
Ini barang wajib yang harus kamu punya kalau mau ke luar negeri. Saya bikin paspor sesungguhnya sudah dari tahun 2017 tapi baru terwujud jalan-jalannya tahun 2019. Kalau mau tahu ceritanya bisa klik link ini.
Bagaimana cara bikin paspor? Banyak sih artikel yang sudah bahas cara bikin paspor. Tapi saya mau kasih tips sebagai anak rantau. KTP saya Garut tapi saya tinggal di Jakarta. Syarat utama bikin paspor adalah e-KTP. Jadi kalau kamu anak rantau yang belum punya e-KTP, silakan balik ke kampung bikin e-KTP dulu ya. Tapi kalau sudah punya, kamu tinggal lengkapi dengan kartu keluarga asli. Kalau males balik ke kampung bisa minta tolong keluarga kirimkan kartu keluarga asli via pos. Setelah itu bawa e-KTP dan kartu keluargamu beserta kopiannya ke kantor imigrasi terdekat. Kalau kamu bekerja di Jakarta juga mudah banget. Karena saya wartawan, ga diminta menunjukkan surat keterangan kerja ya hehe. Kalau kamu karyawan dan cukup beruntung kayaknya cuma diminta menunjukkan ID karyawan deh. Tapi kalau lagi apes mungkin juga diminta bikin surat keterangan kerja dari kantor. Sepengalaman saya waktu itu sih bikin paspor gampang banget! Semoga kamu juga ya...

Untuk kamu yang sudah punya paspor, jangan lupa cek masa berlakunya. Minimal masa berlaku paspor adalah 6 bulan saat kamu tiba di tempat tujuan. Jadi kalau rencana mengunjungi Thailand April 2019, minimal masa berlaku paspor kamu sampai Oktober 2019. Kalau masa berlaku paspor habis sebelum Oktober 2019, lebih baik perpanjang dulu sebelum berangkat.




Visa
Buat yang belum tahu, visa ini semacam izin masuk ke suatu negara yang bakal ditempel di paspor kamu. Jadi sebelum ke luar negeri kamu harus minta izin dulu ke kedutaan negara tersebut. Memang paspor Indonesia termasuk paspor yang cukup lemah sehingga kita perlu mengurus visa untuk mengunjungi negara lain. Terutama negara adidaya macam Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, pengurusan visa ini katanya bikin stres dan ga sedikit yang pengajuan visanya ditolak. Tapi jangan khawatir, Thailand merupakan salah satu negara bebas visa untuk paspor Indonesia. Kamu bisa googling daftar negara-negara bebas visa untuk paspor Indonesia. Saat tiba di bandara nanti, paspormu akan dicap oleh petugas imigrasi sebagai tanda kamu sudah tiba. Dan kamu harus meninggalkan Thailand 30 hari sejak tanggal yang tertera dari cap itu. Batas lamanya kunjungan berbeda-beda setiap negara. Jadi ga ada salahnya googling dulu ya. Nah, buat yang pertama kali ke luar negeri, sebaiknya mengunjungi negara-negara bebas visa dulu. Kita belajar survive di tempat yang mudah dulu baru bertahap ke tempat-tempat yang sulit dimasuki hehe.


Tiket Pesawat & Hotel
Tidak cuma petugas imigrasi negara tujuan, petugas imigrasi Indonesia juga ternyata kepo kita berapa hari di luar negeri dan menginap di mana. Jadi saya sarankan teman-teman sudah beli tiket PP plus pesan kamar hotel sebelum berangkat. Ketika petugas imigrasi bertanya, kita sudah bisa tunjukkan bukti-bukti booking-an tiket pesawat dan hotel. Ini menghindari kamu dicurigai teroris, TKI ilegal, dsb. Padahal kita kan cuma turis yang mau liburan. Maka buktikan kita memang turis yang sedang liburan dengan bukti-bukti itu. Saya pun melenggang santai melewati imigrasi di mana pun. Selain untuk menghindari masalah dengan petugas imigrasi, beli tiket pesawat dan bayar hotel dari Indonesia juga menghemat uang karena kita bayarnya pakai rupiah, bukan pakai mata uang negara tujuan. Karena kalau bayarnya pakai mata uang negara tujuan, kita pasti bayar lebih mahal karena ada tambahan uang administrasi dan perbedaan kurs.

Bangkok punya 2 bandara, yaitu Suvarnabhumi dan Don Mueang. Kalau kamu pakai pesawat LCC (Low Cost Carrier) seperti Thai Lion Air atau Air Asia akan mendarat di Don Mueang. Saya sudah coba kedua bandara ini karena berangkat dengan Thai Lion Air dan pulang dengan Jet Star (milik Singapura, makanya transit di bandara Changi, Singapura). Untuk menghemat pengeluaran bisa pilih penerbangan tanpa bagasi untuk perginya dan beli bagasi saat pulang saja karena biasanya habis liburan berat koper bertambah karena oleh-oleh dan belanja.

Kalau kamu liburan ke Bangkok, saya sarankan menginap di Glur Hostel. Glur ini lokasinya strategis banget. Hanya jalan kaki ke stasiun BTS  (sky train) Saphan Taksin dan Sathorn Pier (dermaga untuk mengakses boat-boat kalau mau menyusuri sungai Chao Prhaya). Penting untuk cari hotel yang strategis di luar negeri karena kita bisa menghemat pengeluaran dengan menggunakan transportasi umum yang lebih murah. Terutama Thailand terkenal dengan supir taksinya yang suka kasih harga seenaknya dan malas pakai meteran. Kebayang betapa borosnya liburan kamu kalau naik taksi ke mana-mana. Selain strategis, harga menginap di Glur juga terjangkau banget untuk backpacker (meski saya ga pake backpack hehe).  


Itinerary
Untuk negara-negara yang mengharuskan kita mengurus visa terlebih dahulu, biasanya juga meminta kita melampirkan itinerary selama di negara tersebut. Beruntung Thailand tidak seperti itu. Ya namanya juga bebas visa. Petugas imigrasi hanya kepo kita nginap di mana dan mau tahu tiket pulang sudah dibeli atau belum. Tapi, meski ga ditanya petugas, menyiapkan itinerary membantu kita ga buang-buang waktu liburan untuk mikir mau ke mana sampai akhirnya ga ke mana-mana. Sayang lho sudah terbang jauh-jauh dan mahal. Maka pusingnya di Indonesia saja. Sampai di negara tujuan tinggal jalan.

Saran saya untuk menyusun itinerary, kamu bisa cek aplikasi Klook. Saya tahu aplikasi ini dari selebgram Ringgo Agus Rahman. Memang postingan dia endorse dan saya enggak haha. Tapi saya sangat menyarankan kamu coba cek aplikasi ini. Saya pertama kali memutuskan pergi ke Bangkok juga karena menemukan tur wine dari aplikasi ini. Dan itu jadi satu-satunya tur yang saya ikuti selama di Bangkok, karena kalau dibandingkan sewa mobil sendiri, biayanya lebih besar. Sedangkan aktivitas lainnya saya hanya menjadikan Klook sebagai referensi dan akhirnya saya pergi sendiri karena merasa tidak butuh ikut tur, seperti mengunjungi 4 tempat (3 temples + Asiatique) dalam satu hari. Kalau tidak mau repot kamu bisa ikut semua tur di Klook untuk semua hari liburanmu. Ga salah juga. Kalau saya memilih jalan sendiri pada akhirnya karena merasa lebih bebas mengatur waktu dan bisa eksplorasi tempatnya tanpa buru-buru. Saya hanya beli tiket masuk Madame Tussauds di Klook karena katanya lebih murah kalau beli di Klook.

Siapa tahu bisa jadi referensi, teman-teman bisa cek itinerary saya selama di Bangkok di link ini.


Cari Info Sebanyak-banyaknya Tentang Negara Tujuan
Selain berguna untuk menyusun itinerary, googling tentang negara tujuan juga menghindari kita melakukan sesuatu yang dilarang di sana atau sesederhana baju apa yang harus kita bawa, disesuaikan dengan iklim atau suhu udara negara tersebut. Misalnya untuk mengunjungi temples di Thailand itu kita wajib pakai baju sopan atau tertutup. Otomatis kita akan bawa baju sopan atau tertutup minimal satu. Karena musim panas di Bangkok puncaknya bulan April dan saya tiba di sana bulan April, saya memang bawa baju-baju yang lumayan terbuka untuk menjaga sirkulasi udara di dalam tubuh. Tetapi saya menyiapkan baju yang tertutup (meski dalamnya tipis) untuk mengunjungi kuil-kuil. Bangkok memang mirip banget Jakarta jadi tidak sulit menyiapkan baju liburan. Tapi kalau nantinya kita berkunjung ke negara 4 musim, jangan sampai kita bawa baju winter saat kita tiba di musim panas hehe.

Selain masalah baju dan menghindari kita melakukan sesuatu yang dilarang, banyak-banyak googling juga membantu kita tahu sistem transportasi di kota atau negara tujuan. Jadi kita bisa siapkan mau pakai transportasi apa dan biayanya berapa. Ada beberapa kota yang mengharuskan kita bikin tourist past agar bisa menghemat biaya kereta atau bus karena sekali bayar bisa untuk dipakai berkali-kali. Tapi di Bangkok saya tidak bikin tourist past atau semacam Rabit Card karena saya beli tiket kalau butuh saja. Ternyata tidak boros jadi saya beli tiket on the spot.

Nah, soal transportasi di Thailand, dari hasil googling saya tahu transportasi di Bangkok itu sudah bagus banget. Ada MRT, BTS (sky train), dan boat melewati sungai Chao Phraya. Bahkan ada Airport Link yang terhubung dengan BTS dan MRT kalau kita dari dan mau ke bandara. Waktu di Indonesia saya agak kurang paham waktu belajar semua sistem transportasi di Bangkok ini, tapi malah learning by doing setelah tiba di Bangkok. Satu-satunya yang tidak saya coba hanya MRT karena tempat-tempat yang saya kunjungi tidak dilalui MRT. Jadi untuk kamu yang agak bingung setelah googling sana sini soal transportasi, sepertinya lebih baik learning by doing seperti saya. Nyemplung langsung dan coba semuanya tanpa nyasar. Semua pilihan aman untuk turis dan tarifnya tidak dibedakan antara turis dan lokal. Tapi untuk tempat yang tidak dilalui BTS atau MRT seperti Khaosan Road, kamu bisa pakai Grab. Di Bangkok ada grab bike, lho! Jadi jangan khawatir soal transportasi di Bangkok.


Persiapan (satu minggu sebelum berangkat)


Uang cash
Penting banget bawa uang cash kalau traveling ke luar negeri. Karena uang rupiah tentu saja tidak berlaku di negara lain, kita wajib menukarkan uang rupiah ke mata uang negara yang dituju. Meski kamu punya puluhan kartu kredit, bawa uang cash lebih hemat karena kamu ga akan kena charge dari perbedaan kurs.

Saran saya, kamu bisa menukarkan uang rupiah ke Baht (mata uang Thailand) beberapa hari sebelum berangkat. Kalau kamu cukup rajin sih tukarkan uang saat Baht melemah hehe. Tapi harus cek kurs tiap hari. Selain menukarkan rupiah ke Baht, untuk jaga-jaga, kamu juga sebaiknya menukarkan rupiah ke dolar Amerika (USD) atau dolar Singapura (SGD). Kenapa? Karena rupiah (katanya) ga ada harganya di Thailand dan orang Thailand ga suka terima duit rupiah. Kalau kamu kehabisan Baht, kamu bisa menukarkan USD atau SGD-mu ke Baht, bukan menukarkan rupiah. Itu lebih aman karena nilai tukarnya kuat, ga gampang anjlok. Berdasarkan pengalaman sendiri, cara ini memang lebih aman.

Waktu ke Thailand saya bawa 4.300 Baht (rencananya 10.000 Baht karena pernah baca kalau ke Thailand harus bawa minimal 10.000 Baht padahal ternyata hoax). Untung waktu itu bank tempat saya menukarkan uang hanya punya 4.300 Baht. Lalu sisa uang rupiah saya tukar jadi 100 USD dan 100 SGD. Saya butuh SGD karena tiket pulangnya transit di Singapura. Sedangkan 100 USD-nya akhirnya ditukar juga ke Baht pada saat di Bangkok karena ternyata saya cukup aktif memakai Baht  (alias rajin belanja, hehe).

Saran untuk menukarkan uang, kalau ragu ke money changer kamu bisa menukarkan uang di bank. Selain sudah pasti uangnya asli, kurs bank-bank di Indonesia juga terjamin oleh Bank Indonesia. Jangan pernah menukar uang rupiah di negara tujuan, apalagi di bandara karena nilai tukarnya anjlok banget dan kalau nukarnya banyak akan terasa kerugiannya. Selain bank, saya juga sempat menukar uang di Peniti Money Changer, atas saran teman. Dan uangnya terbukti asli dengan kurs yang juga baik. Nah, setelah liburan pun sebaiknya tukarkan uang sisamu di Indonesia saja, jangan di Thailand.


SIM Card
Selain rupiah, sim card Indonesia juga tentu saja tidak bisa digunakan di luar negeri, kecuali mau ambil paket roaming dan biasanya mahal banget. Dengan aplikasi Klook, saya bisa dapat SIM Card Thailand bahkan sebelum berangkat. Ada pilihan mengambil di bandara di Bangkok atau diantar ke alamat di Indonesia. Jadi saya pilih diantar ke kantor daripada deg-degan. Nah, kalau beli SIM Card di Klook, jangan masukkan ke ponselmu sebelum tiba di Bangkok karena masa berlakunya hanya 8 hari sejak diaktifkan. Soalnya SIM Card yang dibeli di Klook ini otomatis aktif saat kita masukkan ke ponsel. Mudah banget cara pakainya. Ga perlu daftar ini itu karena kita sudah mengisi data diri di Klook. Dan internetnya lumayan kencang. Saya pakai untuk bikin IG Story terus selama di Bangkok.


Universal Travel Adaptor
Ini benda kecil yang bisa jadi terlewatkan untuk yang belum pernah ke luar negeri. Saya juga hampir ga bawa kalau ga diingatkan teman. Apalagi kalau traveling sendirian, sebaiknya bawa dari Indonesia karena agak sungkan pinjam ke room mate di hostel, ya kan? Jadi colokan di luar negeri itu ternyata berbeda-beda. Dan kita harus bawa travel adapter kalau mau nge-charge apa pun untuk adaptasi dengan perbedaan itu. Gampang kok, ada di toko elektronik atau supermarket. Kalau susah nemunya, tanya petugas saja minta dicarikan universal travel adaptor. Saya beli yang satu paket isinya 2 travel adaptor, jadi bisa untuk berbagai negara sekaligus, alias bisa dipakai untuk trip-trip selanjutnya. Jangan lupa pilih yang ada logo SNI-nya ya... Kalau ternyata kamu melupakannya, bisa cari travel adaptor ini di 7 eleven terdekat, tapi susah nyari yang ada logo SNI lol.


Gembok
Ini juga benda sepele yang mungkin buat sebagian orang ga penting. Buat saya penting banget. Karena menginap di hostel, saya perlu gembok untuk mengamankan barang-barang berharga. Kalau hostelmu ada lokernya dan ada kuncinya sih enak, tinggal bawa kuncinya ke mana-mana. Tapi kebetulan hostel saya ga ada lokernya. Jadi koper saya taruh di samping tempat tidur dan tas backpack kecil saya taruh di atas kasur. Di dalam backpack kecil ini saya menyimpan barang berharga seperti dompet, ponsel, kamera, dan paspor. Saya gembok setiap kali akan meninggalkan kamar untuk ke toilet atau mandi. Nah gemboknya saya pakai untuk koper saat flight.



Keberangkatan

Packing
Kalau belum pernah ke luar negeri dan memilih tiket tanpa bagasi, biasanya tidak tahu kalau bagasi kabin itu terbatas 7 kg dan ada aturan membawa cairan. Inilah gunanya googling. Saya juga baru tahu setelah googling. Saya memutuskan tetap tidak beli bagasi dan mengandalkan bagasi kabin. Karena jatah bagasi kabin hanya 7 kg, pilihan tas juga berpengaruh. Koper dan backpack punya berat yang berbeda. Saya lebih pilih koper karena meski lebih berat dari backpack tapi lebih praktis buat saya. Sehingga saya mengakalinya dengan membawa sedikit baju saja dan beli di Bangkok kalau butuh tambahan pakaian. Terutama baju tidur saya hanya bawa 1 piyama yang dipakai untuk 6 malam.




Ini saran berkemas dari saya buat yang hanya mengandalkan bagasi kabin:
1. Bawa pakaian seperlunya dan handuk kecil saja.
2. Taruh semua cairan di tas yang berbeda (jangan di koper) untuk mengurangi berat koper, karena biasanya yang ditimbang beratnya cuma koper. Jadi koper khusus buat baju, underwear, dan handuk.
3. Untuk penerbangan internasional, kita hanya diizinkan membawa 100 ml cairan per botol dengan akumulasi 1 liter. Jadi, pindahkan sabun cair, sampo, lotion, cairan softlens-mu ke botol-botol 100 ml transparan yang bisa didapat di Miniso :P
4. Kalau ga mau ribet mindah-mindahin ke botol-botol transparan, pilih produk-produk dengan travel size (maksimal 100 ml) lalu satukan di tas kosmetik transparan (agar mudah mencarinya). Saya juga begitu. Beli semua cairan dalam ukuran di bawah 100 ml lalu saya satukan di tas kosmetik transparan dan masukkan di backpack kecil (lihat tas oranye di gambar). Tas kosmetik transparan penting dipisahkan dari koper karena jika petugas ingin memeriksanya, kita ga perlu repot-repot buka koper.
5. Jadi saya bawa koper ukuran kabin (20 inch) dan satu backpack kecil. Backpack kecil warna oranye ini untuk membawa tas kosmetik transparan dan tas kecil yang berisi uang tunai, kartu sim, paspor, dan powerbank. Saat masuk pesawat, saya bisa keluarkan tas kecil untuk dipangku dan tas oranye serta kopernya saya taruh di atas kepala.


Tiba di Bandara
Kalau kamu tiba di bandara Don Mueang, kamu bisa naik bus bandara menuju stasiun-stasiun BTS terdekat dengan hotel atau hostelmu. Nah bisa tanya petugas bandara sih sebaiknya naik bus yang mana kalau bingung. Karena hostel saya dekat BTS Saphan Taksin, saya naik bus bandara A1 menuju BTS Mo Chit, transit di BTS Siam, ganti jalur ke Sukhumvit Line menuju BTS Saphan Taksin. Atau, ini juga saya baru tahu belakangan. Kamu bisa naik shuttle bus ke bandara Suvarnabhumi. Dari situ bisa naik Airport Link ke stasiun BTS. Kalau kamu tiba di bandara Suvarnabhumi, bisa langsung naik Airport Link (kereta) lalu transit di BTS Phaya Thai. Dari Phaya Thai bisa lanjut ke BTS tujuanmu. Kalau baca ini di Indonesia memang rasanya pusing ya. Tapi kalau sudah di Bangkok mudah kok.



Selama di Bangkok

Bahasa
Kalau kamu bisa bahasa Thailand, bagus, karena bisa nawar harga terutama di pasar Chatuchak, hehe.  Wajah saya yang sangat Asia ini selalu diajak ngomong bahasa Thailand sama pedagang-pedagang di Bangkok sampai saya bilang ke mereka kalau saya bukan orang Thailand. Tapi kalau ga bisa bahasa Thailand, berbahasa Inggris lah, karena ga ada yang bisa bahasa Indonesia kecuali kamu ketemu orang Indonesia di sana, hehe. Kalau kamu nyasar atau ingin tanya sesuatu, tanyalah ke petugas berseragam (polisi atau petugas BTS atau petugas MRT), atau ke anak sekolah. Karena biasanya mereka bisa bahasa Inggris. Seperti juga di Indonesia, tidak semua warga Thailand bisa bahasa Inggris, meskipun kota atau negara mereka sering dikunjungi turis. Jadi, harap sabar. Kalau takut kena scam maka bertanyalah kepada orang-orang tersebut agar aman.

Transportasi 
Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, transportasi umum di Bangkok itu sudah bagus banget dan terhubung satu sama lain. Kereta-kereta seperti MRT, BTS, Airport Link, saling terhubung. Kalau kamu mau merasakan berbaur bersama warga lokal, gunakan transportasi ini. Bus umum juga ada sebenarnya, cuma ini lebih advance menurutku. Kamu harus benar-benar hapal jalanan di Bangkok kalau mau naik bus umum. Saya tidak menyarankan untuk yang baru pertama ke Bangkok. Taksi juga. Kalau kamu bisa ngotot minta pakai meteran, kamu akan selamat dari pembengkakan biaya. Tapi berdasarkan pengalaman teman-teman, supir taksi di Bangkok banyak yang asal tembak tarif apalagi sama turis. Pilihan aman lainnya adalah Grab. Baik Grab Car dan Grab Bike tersedia di Bangkok. Tapi sepanjang pengalaman saya pakai Grab Bike, harganya jauh-jauh lebih mahal dari tarif per km di Jakarta. Jadi gunakan Grab di saat-saat emergency saja, seperti kalau pulang kemalaman, tujuan yang dituju tidak dilalui jalur kereta, atau memang sudah kelelahan banget untuk naik kereta. Selama masih bisa naik kereta, naiklah kereta di Bangkok!


Makanan









Untuk yang harus makan makanan halal, kayaknya agak susah di Bangkok. Karena sering banget nemu makanan yang ada babinya. Jadi saya ga bisa nulis soal makanan halal di Bangkok. Yang ingin saya tulis di sini adalah makanan asli Thailand yang di pinggir-pinggir jalan itu pedasnya luar biasa. Jadi hati-hati kalau pesan makanan. Saya termasuk penggemar sambal yang selalu pesan level 5 ke atas kalau di Jakarta, tapi pernah kepedesan sampai minum berkali-kali waktu makan Pad Thai. Soal makanan sebenarnya mudah banget menemukan makanan di Bangkok. Kecuali vegetarian dan yang harus makan makanan mahal mungkin bisa cari postingan lain soal ini ya, maaf saya ga bisa kasih referensi. Oh iya, di salah satu supermarket di Bangkok, namanya Emquartier, kamu bisa makan ala resto dengan pilih sendiri daging mentah segar di supermarket itu (beef, pork, atau seafood). Ada tukang masak yang akan masakin daging yang kamu pilih sesuai keinginanmu. Termasuk pendampingnya kayak sayuran, kentang (mashed potato atau french fries). Saya coba Thai Beef dan enak banget!!!


Selengkapnya pengalaman saya di Bangkok bisa dibaca di link ini.



Tips Tambahan (dan Paling Penting)
Simpan ponsel, kamera, dompet, paspor, powerbank dan benda lainnya yang menurutmu berharga dalam satu tas yang bisa kamu bawa setiap kali meninggalkan hostel atau hotel. Apalagi kalau menginap di hostel, penting banget tas berisi barang-barang ini tidak ditinggal di kamar. Boleh dibilang tas ini adalah nyawamu. Apalagi paspor. Jangan sampai jauh-jauh dari paspor apalagi sampai kehilangan paspor atau kamu akan kesulitan kembali ke Indonesia. Selama benda-benda ini selalu bersamamu, percayalah kamu akan baik-baik saja.


Selamat liburan! Kalau ada yang kelupaan akan saya tambahkan kemudian. Atau, kamu bisa ketik di kolom komentar apa yang ingin kamu tahu. Saya akan jawab berdasarkan pengalaman saya ya...

Comments