Film ‘Joker’, Kematian Sulli, dan Gagal Paham Tentang Gangguan Mental


Entah disengaja atau tidak, pemutaran film Joker bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Dunia yang diperingati setiap 10 Oktober. Joker adalah satu-satunya musuh Batman yang latar belakangnya misterius. Baik di komik atau film-film Batman, tidak ada cerita bagaimana kehidupan Joker sebelum menjadi penjahat. Celah ini yang sepertinya digunakan sang sutradara Todd Phillips dalam mengembangkan cerita film Joker. Tak tanggung-tanggung, ia membawa isu penyakit mental.
Tapi sayangnya, kutipan yang jadi viral dari film itu adalah “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”. Arthur Fleck (orang baik) berubah menjadi Joker (orang jahat) karena tersakiti. Kekerasan yang dilakukan Joker membuat stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) semakin buruk: Mereka bisa membunuhmu! Mereka bisa berbuat jahat! Hati-hati, jangan menyakiti mereka!
Stigma seperti ini yang menyebabkan penanganan untuk ODGJ sering salah. Pemasungan adalah tindakan yang paling menunjukkan ketakutan orang terhadap ODGJ. Mereka dipasung agar tidak menyakiti orang lain. Kementerian Sosial mencatat setidaknya 1.345 ODGJ masih dipasung dan Indonesia Bebas Pasung tahun 2019 menjadi prioritas. Apakah Indonesia benar-benar sudah bebas pasung tahun ini? Belum tahu. Padahal hasil penelitian yang dilakukan psikater dari Amerika Serikat, E. Fuller Torrey (2011) menunjukkan, penderita ODGJ cenderung menjadi korban daripada menjadi pelaku kekerasan.
Baca selengkapnya di sini

Comments