Bersyukur di Atas Penderitaan Orang Lain? (Catatan di Masa Pandemi)





Saya menangis melihat unggahan teman kantor saya di Instagram-nya tentang bagaimana perjuangannya menghadapi covid-19. Ayahnya meninggal dunia saat ia dirawat di rumah sakit. Tak sempat melihat ayah untuk yang terakhir kali, juga tak bisa menangis di pelukan suami dan anak-anak karena ia sedang diisolasi. Pantaskah saya bersyukur karena hingga saat ini masih sehat dan masih memiliki keluarga lengkap yang juga sehat, meski terpisah jauh karena saya berada di zona merah?

Ya, sejak kecil kita diajari untuk bersyukur di atas penderitaan orang lain. Misalnya anak kecil yang mengeluh tidak punya sepeda akan diajarkan bersyukur karena ada anak kecil lain yang mau beli mainan saja susah. Sementara anak ini mainannya banyak sekali. Bahkan ada juga anak kecil yang harus berjualan atau meminta-minta di jalanan. Si anak ini diajari bersyukur karena dia lebih beruntung dari anak-anak lain. Sekilas ajaran ini tampak benar. Tapi seiring waktu ia akan tumbuh dengan cara bersyukur yang salah. Ia harus selalu mencari orang lain yang lebih menderita darinya untuk bisa bersyukur.

Jika saya mengeluh karena tidak bisa bertemu keluarga di kampung, pasti akan ada yang mengatakan saya harus bersyukur karena orang lain ada yang kehilangan ayahnya saat ia sendiri berjuang melawan virus Corona di tubuhnya. Sedangkan saya masih punya keluarga lengkap dan kami semuanya sehat-sehat. Saya tidak mau bersyukur di atas penderitaan teman saya! Saya tidak mau beryukur di atas penderitaan orang lain, siapa pun itu!

Akhir Juli lalu saya berhasil mudik untuk merayakan Idul Adha di rumah orang tua. Ini sebagai pengganti Idul Fitri karena saat itu saya "terperangkap" PSBB di Jakarta. Sebagai anak pertama yang terbiasa jauh dari orang tua, terbiasa merantau, dan sangat jarang mengalami home sick, pandemi untuk pertama kalinya membuat saya akhirnya tahu apa itu home sick. Selama menjalani swakarantina, saya terus merindukan orang tua, adik-adik, dan keponakan-keponakan saya, sampai sering terbawa mimpi. Dan saat akhirnya bisa pulang, saya menangis saat berhasil memeluk ibu saya. Tidak pernah saya seperti ini. Saya memilih bersyukur karena ini. Saya bersyukur, pandemi membuat saya menjadi sangat dekat secara emosional dengan keluarga saya. Saya melihat mereka dengan cara yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ini hikmah yang saya dapat dari pandemi: sayangi keluargamu, muliakan orang tuamu sebelum kamu tidak bisa lagi melihat mereka, memeluk mereka. Saya mengakui kesibukan saya mengejar karier pernah membuat saya berjarak dengan keluarga, terutama orang tua. Dan saya bersyukur, pandemi ternyata menyadarkan saya, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Iya, ini bukan sekadar soundtrack film!

Jadi, cukuplah saya mensyukuri hal-hal kecil yang masih saya punya, tanpa harus membandingkannya dengan penderitaan orang lain. Saya masih bisa stok makanan di kulkas, masih bisa kerja dari rumah, masih bisa pulang saat Idul Adha kemarin, memeluk semua anggota keluarga saya, makin dekat secara emosional dengan mereka. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Jika pun sesekali saya mengeluh, itu wajar saja. Up and down selama pandemi itu wajar menurut saya. Dan semua orang pasti mengalaminya. Jadi tidak perlu cari orang yang lebih menderita untuk bisa bersyukur. Cukup doakan mereka yang diuji lebih berat dari kita agar mereka lebih kuat dan lebih tabah. Doa lebih berguna untuk mereka ketimbang syukur kita di atas penderitaan mereka.



Comments